Tradisi Ma’doda Polewali Mandar – Masyarakat Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, memiliki beragam tradisi yang terus bertahan di tengah perkembangan zaman. Salah satunya adalah ma’doda, tradisi memasak beras ketan menggunakan bambu yang biasanya berlangsung ketika masyarakat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi tersebut masih hidup dengan kuat di Desa Riso, Kecamatan Tapango. Hampir setiap keluarga di desa ini ikut melaksanakan ma’doda ketika perayaan maulid tiba. Warga tidak hanya memandang kegiatan tersebut sebagai proses membuat makanan tradisional, tetapi juga sebagai kesempatan untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan sosial.

Selain itu, masyarakat memaknai ma’doda sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Melalui tradisi turun-temurun tersebut, warga berkumpul, bekerja bersama, serta berbagi hasil masakan dengan keluarga, tetangga, dan para tamu.

Kepala Desa Riso, Onang, menjelaskan bahwa masyarakat menjalankan ma’doda untuk memeriahkan peringatan maulid sekaligus mengungkapkan rasa syukur. Warga juga menyimpan harapan agar mereka mendapatkan rezeki yang semakin baik.

Mengenal Doda’, Kuliner Khas dari Tradisi Ma’doda

Tradisi ma’doda menghasilkan makanan khas yang masyarakat setempat sebut doda’. Makanan ini menggunakan bahan utama beras ketan, santan kelapa, dan sedikit garam.

Meskipun menggunakan bahan yang relatif sederhana, proses memasak di dalam bambu menghasilkan karakter rasa tersendiri. Warga juga harus memperhatikan setiap tahap pengolahan agar ketan matang secara merata.

Prosesnya dimulai dengan menyiapkan bambu sepanjang kurang lebih 60 sentimeter. Warga kemudian melapisi bagian dalam bambu menggunakan daun pisang. Lapisan tersebut membantu memberikan aroma khas sekaligus mencegah beras ketan bersentuhan langsung dengan permukaan bagian dalam bambu.

Selanjutnya, warga memasukkan beras ketan yang sudah dibersihkan. Mereka kemudian menuangkan santan kelapa yang telah dicampur sedikit garam. Setelah seluruh bahan berada di dalam bambu, bagian ruasnya ditutup menggunakan sabut kelapa agar isinya tidak keluar selama proses memasak.

Doda’ Dipanggang Menggunakan Bara Api

Tahapan berikutnya menjadi salah satu bagian menarik dalam tradisi ma’doda. Warga memanggang bambu berisi ketan dan santan di atas bara api selama kurang lebih 30 menit.

Mereka menyusun bambu dengan posisi tertentu di sekitar bara. Selama pemanggangan berlangsung, bambu harus diputar secara berkala supaya mendapatkan panas secara merata. Perlahan, beras ketan dan santan di dalamnya matang hingga menjadi doda’ yang siap dinikmati.

Walaupun terlihat mudah, proses tersebut membutuhkan ketelitian. Warga perlu memilih bambu yang sesuai sekaligus mengendalikan panas agar ketan matang sempurna tanpa membuat wadah bambu hangus.

Kebersamaan juga terlihat melalui pembagian pekerjaan. Pada umumnya, kaum perempuan bertugas mempersiapkan dan memasukkan bahan ke dalam bambu. Sementara itu, kaum pria menangani proses pemanggangan.

Pembagian tersebut telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Desa Riso selama beberapa generasi. Onang mengatakan masyarakat telah mengenal ma’doda sejak zaman nenek moyang dan terus mewariskannya secara turun-temurun.

Ma’doda Menjadi Daya Tarik Desa Riso

Pada masa lalu, masyarakat membuat doda’ terutama untuk keluarga dan tetangga. Setiap rumah menyiapkan makanan tersebut, kemudian saling bertukar hasil masakan dengan warga lainnya.

Namun, kebiasaan itu perlahan berkembang. Kini, masyarakat juga menyajikan doda’ kepada para tamu yang datang ke Desa Riso ketika perayaan Maulid Nabi berlangsung.

Antusiasme masyarakat dari luar desa bahkan terus meningkat. Banyak pengunjung datang untuk melihat secara langsung bagaimana warga memasak doda’ secara bersama-sama. Besarnya jumlah pengunjung pada waktu tertentu bahkan dapat menyebabkan kepadatan lalu lintas di akses menuju desa.

Kondisi tersebut membuat tradisi ma’doda berkembang menjadi salah satu daya tarik budaya Desa Riso. Karena itu, masyarakat berusaha mempertahankan tradisi yang mereka warisi dari generasi terdahulu.

Jumlah doda’ yang di persiapkan setiap keluarga pun semakin banyak. Menurut Onang, rata-rata satu rumah dapat menyediakan sedikitnya 25 kilogram beras ketan. Bahkan, beberapa keluarga menyiapkan hingga satu kuintal beras ketan untuk memenuhi kebutuhan selama perayaan.

Setiap satu kilogram beras ketan dapat menghasilkan sekitar tiga hingga empat batang doda’. Jumlah tersebut bergantung pada ukuran bambu yang digunakan.

Warga Desa Riso Polewali Mandar

Foto: Tradisi Ma’doda di Polewali Mandar (Polman).

Persiapan Tradisi Ma’doda Bisa Mencapai 10 Hari

Besarnya kebutuhan selama perayaan membuat masyarakat harus mempersiapkan ma’doda jauh sebelum hari pelaksanaan. Warga biasanya membutuhkan waktu minimal 10 hari untuk mengumpulkan seluruh kebutuhan.

Persiapan tersebut mencakup beras ketan, kelapa, kayu bakar, hingga bambu sebagai wadah memasak. Pemilihan bambu menjadi bagian penting karena warga tidak dapat menggunakan sembarang jenis bambu.

Masyarakat Desa Riso biasanya memilih bambu tipis yang mereka kenal sebagai tallang. Karakter bambu tersebut di nilai cocok untuk memasak doda’ karena tidak mudah hangus ketika terkena panas dari bara api.

Selain mempersiapkan bahan secara individual, warga saling membantu dalam berbagai pekerjaan. Pola gotong royong inilah yang membuat ma’doda memiliki nilai sosial lebih luas daripada sekadar tradisi kuliner.

Ma’doda Menjadi Ruang Toleransi Antarumat Beragama

Salah satu nilai penting yang muncul dalam pelaksanaan ma’doda adalah toleransi. Tradisi yang hadir dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat Muslim.

Menurut Onang, warga dengan keyakinan berbeda juga ikut membantu pelaksanaan kegiatan. Mereka terlibat mulai dari mencari dan mengambil bambu hingga membantu proses pemanggangan doda’.

Keterlibatan seluruh masyarakat menunjukkan kuatnya semangat gotong royong di Desa Riso. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi warga untuk saling membantu ketika menjalankan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Karena itu, ma’doda tidak sebatas menjadi tradisi dalam perayaan keagamaan. Kegiatan tersebut juga menyediakan ruang perjumpaan bagi masyarakat dengan beragam latar belakang untuk bekerja dan merayakan kebersamaan.

Menjaga Warisan Leluhur dan Semangat Kebersamaan

Bagi masyarakat Desa Riso, mempertahankan ma’doda berarti menjaga lebih dari sekadar resep makanan tradisional. Di dalam prosesnya terdapat nilai gotong royong, silaturahmi, rasa syukur, toleransi, dan penghormatan terhadap peninggalan generasi terdahulu.

Perubahan zaman juga tidak membuat masyarakat meninggalkan tradisi tersebut. Sebaliknya, meningkatnya jumlah pengunjung menunjukkan bahwa ma’doda memiliki potensi untuk terus di kenal sebagai bagian dari kekayaan budaya Polewali Mandar.

Melalui proses memasak doda’ secara bersama-sama, masyarakat Desa Riso terus meneruskan kebiasaan yang di wariskan leluhur. Dengan demikian, ma’doda tetap hidup bukan hanya melalui bambu, ketan, dan santan yang menjadi bagian dari proses memasak, tetapi juga melalui semangat warga yang secara konsisten menjaga kebersamaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.