Mel Ahyar Archipelago – membawa kekayaan budaya Pulau Nias ke panggung Senayan City Fashion Nation edisi ke-20 melalui koleksi terbaru bertajuk “Tanö Niha”. Koleksi tersebut memperlihatkan bagaimana alam, kehidupan masyarakat adat, peninggalan sejarah, hingga keterampilan tradisional dapat di terjemahkan menjadi karya mode kontemporer.
Tanö Niha memiliki arti Tanah Nias. Mel Ahyar tidak hanya menjadikan keindahan visual Pulau Nias sebagai sumber gagasan. Sebaliknya, ia menggali berbagai cerita yang tumbuh di tengah masyarakat dan menggunakannya sebagai fondasi untuk membangun karakter koleksi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan proses kreatif Mel Ahyar Archipelago yang kerap berangkat dari riset. Sebelum menentukan bentuk pakaian dan detail yang akan digunakan, Mel lebih dahulu mempelajari daerah yang menjadi sumber inspirasinya.
Keunikan Nias Menjadi Titik Awal Tanö Niha
Perjalanan riset ke Nias, Sumatera Utara, memberikan banyak temuan kepada Mel Ahyar. Salah satu hal yang paling menarik perhatiannya berkaitan dengan tradisi tekstil masyarakat setempat.
Berbeda dari sejumlah daerah Indonesia yang dikenal melalui kain tradisional atau wastra, Mel menemukan karakter berbeda di Nias. Menurut pengamatannya, kekuatan visual pada pakaian tradisional masyarakat Nias justru banyak terlihat melalui penggunaan bordir.
Temuan tersebut kemudian membuka ruang eksplorasi yang lebih luas. Mel tidak harus terpaku pada satu jenis kain tradisional. Sebaliknya, ia dapat menggali berbagai unsur budaya lain untuk membangun identitas koleksi Tanö Niha.
Selain budaya, kondisi geografis Nias turut memperkuat ketertarikannya. Pulau di pesisir barat Sumatera itu memiliki bentang alam yang khas dan di kenal luas sebagai salah satu destinasi bagi pencinta olahraga selancar.
Potensi alam tersebut membuat Nias memiliki daya tarik tersendiri bagi Mel. Namun, perjalanan kreatifnya tidak berhenti pada keindahan pantai dan laut. Ia kemudian masuk lebih jauh ke kehidupan masyarakat lokal untuk memahami jejak budaya yang masih bertahan.

Koleksi Tanö Niha dari Mel Ahyar Archipelago di Fashion Nation 20th Edition, di Senayan City, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026).
Kampung Adat dan Relief Batu Menjadi Sumber Inspirasi
Saat berada di Nias, Mel Ahyar mengunjungi sejumlah kampung adat. Di sana, ia melihat kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan berbagai kebiasaan tradisional dalam aktivitas sehari-hari.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru dalam pengembangan Tanö Niha. Terlebih lagi, Mel menemukan banyak peninggalan visual yang mampu menggambarkan kehidupan masyarakat Nias pada masa lalu.
Salah satu elemen yang paling menarik perhatiannya adalah relief batu. Ukiran tersebut bukan sekadar ornamen, melainkan menjadi medium yang merekam cerita dari generasi terdahulu.
Bagi Mel, relief-relief itu menunjukkan bagaimana masyarakat pada zamannya menyampaikan kisah melalui simbol visual. Jejak tersebut kemudian menjadi salah satu materi penting yang ia olah kembali ke dalam bahasa mode.
Pengalaman lain muncul ketika Mel mendatangi kediaman seorang tokoh adat yang sedang menjalani proses konservasi. Ia menemukan sebuah ukiran kapal dengan sejumlah figur manusia di dalamnya.
Dalam ukiran tersebut, sebagian besar figur memiliki warna gelap. Namun, terdapat satu sosok dengan warna berbeda yang berdiri di bagian tengah kapal. Berdasarkan penjelasan yang di terimanya, perbedaan warna itu menggambarkan pertemuan masyarakat lokal dengan orang asing pada masa kolonial.
Detail sederhana tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat terdahulu menyimpan memori sejarah melalui karya visual. Karena itu, Mel kemudian menjadikan kekayaan narasi pada relief sebagai bagian dari identitas koleksinya.
Anyaman Nias Diterjemahkan ke Material Modern
Mel Ahyar tidak hanya mengeksplorasi relief sebagai inspirasi. Ia juga memperhatikan keterampilan menganyam yang berkembang di tengah masyarakat Nias.
Secara tradisional, masyarakat setempat menggunakan daun pandan sebagai salah satu material untuk menghasilkan karya anyaman. Mel kemudian mengambil prinsip teknik tersebut dan membawanya ke ranah mode melalui pendekatan material yang berbeda.
Dalam koleksi Tanö Niha, teknik anyaman di terapkan menggunakan organza sutra. Perubahan material tersebut menciptakan pertemuan antara keterampilan tradisional dengan karakter busana modern.
Sementara itu, cerita yang berasal dari relief batu turut diterjemahkan melalui detail sulaman. Dengan pendekatan tersebut, unsur budaya Nias tidak di tampilkan sebagai salinan langsung dari peninggalan tradisional. Mel memilih mengolahnya kembali sehingga tetap memiliki hubungan dengan sumber inspirasi, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih kontemporer.
Melalui Tanö Niha, Mel Ahyar Archipelago akhirnya menghadirkan interpretasi mengenai Nias dari berbagai sisi. Alam menjadi pintu masuk, sedangkan kampung adat, relief batu, sejarah, bordir, dan teknik anyaman memperkaya cerita di balik koleksi.
Kehadiran karya tersebut di Senayan City Fashion Nation edisi ke-20 sekaligus memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Nusantara dapat terus di kembangkan melalui pendekatan kreatif. Tradisi tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat memperoleh ruang baru ketika di terjemahkan ke dalam desain yang relevan dengan perkembangan mode masa kini.