Astra For Law – menjadi platform kecerdasan buatan yang di kembangkan OpenAI untuk mendukung berbagai aktivitas profesional di sektor hukum. Teknologi ini menawarkan kemampuan mulai dari pencarian referensi hukum, pemeriksaan kontrak dan perkara, pembuatan dokumen, hingga pengembangan aplikasi berbasis AI sesuai kebutuhan perusahaan atau firma hukum.

OpenAI membangun layanan tersebut menggunakan GPT-6 Astra sebagai fondasi model kecerdasan buatannya. Meski memakai teknologi dasar yang sama, Astra for Law mendapatkan konfigurasi berbeda karena pengguna utamanya berasal dari lingkungan legal.

OpenAI menambahkan seperangkat instruksi, alat, serta pengaturan yang berorientasi pada aktivitas hukum. Pendekatan tersebut bertujuan membuat sistem lebih sesuai ketika pengguna meminta bantuan untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan pemahaman terhadap dokumen dan sumber hukum.

Dengan kemampuan tersebut, platform ini tidak hanya berfungsi sebagai chatbot untuk menjawab pertanyaan. Pengguna dapat memanfaatkannya sebagai alat pendukung ketika perlu mengumpulkan informasi, memeriksa dokumen, atau mengembangkan alur kerja berbasis kecerdasan buatan.

Astra for Law Memiliki Mesin Pencarian Sumber Hukum

Salah satu bagian penting yang OpenAI hadirkan pada Astra for Law adalah indeks pencarian khusus untuk materi hukum. Fitur tersebut membantu sistem menemukan referensi yang berkaitan dengan persoalan yang sedang di analisis.

Dalam praktiknya, seorang pengacara dapat meminta sistem mencari perkara terdahulu yang mempunyai karakteristik serupa dengan kasus yang sedang di tangani. Astra for Law kemudian dapat menelusuri dokumen yang tersedia dan mengidentifikasi bagian tertentu yang berhubungan dengan kebutuhan pengguna.

Kemampuan tersebut juga membantu pengguna menilai relevansi suatu sumber terhadap argumentasi atau analisis yang sedang disusun. Dengan demikian, proses pencarian tidak berhenti pada penemuan dokumen, tetapi berlanjut ke identifikasi bagian yang berpotensi berguna dalam pekerjaan hukum.

OpenAI mengisi indeks tersebut dengan beragam materi hukum yang berasal dari Amerika Serikat. Cakupannya antara lain keputusan pengadilan, undang-undang, peraturan, dan keputusan administratif.

Korpus yang menjadi sumber pencarian mencakup lebih dari 230 juta URL. OpenAI juga menyatakan bahwa materi baru terus masuk ke dalam sistem setiap hari sehingga cakupan referensinya dapat berkembang dari waktu ke waktu.

OpenAI Bekerja Sama dengan Free Law Project

Untuk memperluas ketersediaan sumber, OpenAI menjalin kolaborasi dengan Free Law Project. Organisasi nirlaba tersebut berada di balik CourtListener, basis data yang menyediakan berbagai informasi dan dokumen hukum.

Kerja sama itu membuat koleksi putusan yang terdapat di CourtListener dapat masuk ke indeks pencarian Astra for Law. Menurut informasi yang disampaikan perusahaan, koleksi tersebut mencakup lebih dari 99,9 persen putusan preseden Amerika Serikat yang telah dipublikasikan.

Meski menyediakan mesin pencarian khusus, OpenAI tidak memosisikan Astra for Law sebagai pengganti layanan basis data profesional yang selama ini digunakan industri hukum.

Sebaliknya, indeks tersebut di rancang sebagai pelengkap bagi sumber berlisensi dan layanan khusus milik penyedia lain. Salah satu perusahaan yang disebut dalam konteks ini adalah Thomson Reuters.

Pendekatan tersebut memungkinkan firma tetap mempertahankan perangkat dan sumber informasi yang telah menjadi bagian dari sistem kerja mereka, sembari menambahkan kemampuan AI ke dalam proses tertentu.

Astra for Law platform AI OpenAI untuk bidang hukum

Ilustrasi OpenAI Astra.

Pengujian Astra for Law untuk Riset Hukum

OpenAI turut menguji kemampuan platform barunya dalam menjalankan aktivitas riset hukum. Perusahaan menggunakan sebanyak 200 pertanyaan mengenai hukum Amerika Serikat sebagai bagian dari evaluasi.

Pengujian memanfaatkan private validation set dari Vals AI Legal Research Bench. Tolok ukur tersebut menilai beberapa kemampuan penting, termasuk menemukan sumber yang sesuai, menentukan bagian dokumen yang relevan, serta menghasilkan jawaban berdasarkan materi yang di temukan.

Ketika menggunakan tingkat reasoning effort tertinggi, Astra for Law memperoleh tingkat kelulusan pemeriksaan ketepatan keseluruhan sebesar 54 persen.

Sebagai pembanding, GPT-6 Astra yang memanfaatkan pencarian web mendapatkan angka 38,7 persen dalam evaluasi yang sama.

Perbedaan juga terlihat saat sistem harus menemukan perkara yang dapat menjadi referensi. Untuk pertanyaan yang berhubungan dengan putusan pengadilan, Astra for Law di laporkan menemukan 24 persen lebih banyak kasus rujukan di bandingkan GPT-6 Astra yang menggunakan pencarian web.

Selain menemukan dokumen, sistem perlu menentukan bagian mana yang benar-benar berhubungan dengan pertanyaan. Dalam aspek tersebut, Astra for Law tercatat mampu menemukan hingga 54 persen lebih banyak bagian teks relevan dari putusan yang tepat ketika kedua model beroperasi dengan tingkat reasoning effort yang sama.

Dapat Terintegrasi dengan Perangkat Firma Hukum

OpenAI juga memperhatikan kebutuhan integrasi karena setiap firma dapat menggunakan perangkat lunak dan sistem kerja yang berbeda. Karena itu, Astra for Law tidak di rancang sebagai platform yang sepenuhnya berdiri sendiri.

Perusahaan menyediakan 26 plugin yang di kembangkan oleh mitra. Melalui plugin tersebut, ChatGPT dapat terhubung dengan sejumlah perangkat yang telah di gunakan di industri hukum, termasuk Relativity dan Clio.

Dukungan integrasi memberi peluang bagi firma untuk memasukkan kemampuan AI ke dalam alur kerja yang sudah berjalan tanpa harus mengganti seluruh sistem mereka.

Selain digunakan langsung oleh firma hukum, teknologi Astra for Law juga tersedia melalui API. Perusahaan teknologi legal seperti Harvey dan Legora di sebut dapat memanfaatkan akses tersebut untuk mengembangkan produk ataupun alur kerja berbasis AI mereka sendiri.

Astra for Law Masih Tersedia Secara Terbatas

Pada tahap peluncuran awal, OpenAI belum menyediakan Astra for Law secara luas kepada seluruh pengguna. Akses di berikan kepada sejumlah firma hukum yang terpilih melalui program Trusted Access.

Pengguna yang mendapatkan akses dapat menemukan model tersebut melalui ChatGPT dan Codex. Pada pilihan model, layanan khusus hukum ini tampil menggunakan nama GPT-6 Astra Law.

Sementara itu, pengembang yang mengaksesnya melalui API akan menjumpai model dengan nama gpt-6-astra-law.

Kehadiran Astra for Law menunjukkan upaya OpenAI untuk membawa model AI umum menuju penggunaan yang lebih spesifik di lingkungan profesional. Alih-alih hanya menyediakan kemampuan percakapan, platform ini menggabungkan model AI dengan sumber hukum, alat pencarian, integrasi perangkat, dan konfigurasi yang di sesuaikan dengan aktivitas legal.

Meski demikian, hasil pengujian yang belum mencapai ketepatan sempurna juga menunjukkan pentingnya pemeriksaan manusia terhadap keluaran sistem. Dalam pekerjaan hukum yang membutuhkan akurasi tinggi, AI dapat berperan sebagai perangkat pendukung untuk mempercepat pencarian dan pengolahan informasi, sementara keputusan serta verifikasi akhir tetap memerlukan penilaian profesional.