Hasanuddin – menjaga budaya Sumbawa selama lebih dari empat dekade melalui tari, pendokumentasian tradisi, hingga keterlibatannya dalam pelestarian cagar budaya. Memasuki usia hampir 63 tahun, pensiun dari aparatur sipil negara tidak membuat langkahnya berhenti. Sebaliknya, ia memilih melanjutkan pekerjaan yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Perjalanan Hasanuddin bersentuhan dengan dunia pendidikan dan kebudayaan dimulai ketika usianya sekitar 20 tahun. Ia mengawali pengabdian sebagai guru, kemudian menjalani perjalanan panjang di lingkungan pemerintahan. Sebelum pensiun, ia pernah menduduki posisi Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa.
Selama berada di pemerintahan, Hasanuddin ikut menyusun program, mengoordinasikan kegiatan, hingga memperjuangkan anggaran untuk berbagai agenda kebudayaan. Namun, setelah masa kerjanya berakhir, ia menyadari pelestarian tradisi tidak cukup bergantung pada program resmi pemerintah.
Menciptakan Tari dari Kehidupan Masyarakat Sumbawa
Dunia tari menjadi salah satu ruang pengabdian terbesar Hasanuddin. Karya yang ia susun tidak hanya mengejar keindahan gerakan. Kehidupan masyarakat, tradisi, serta lingkungan Sumbawa menjadi sumber utama gagasannya.
Salah satu karya yang lahir dari proses tersebut adalah Tari Mata’ Rame. Hasanuddin mengambil inspirasi dari kegiatan masyarakat ketika bertani hingga memanen padi. Aktivitas yang sebenarnya dapat ditemukan di berbagai daerah itu kemudian ia olah dengan karakter dan identitas khas Sumbawa.
Perjalanannya sebagai penata tari tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal berkarya, sejumlah seniman senior sempat mempertanyakan pendekatannya. Pengalaman tersebut membuat Hasanuddin semakin memahami bahwa penciptaan tari Sumbawa harus memiliki hubungan kuat dengan tradisi masyarakat, bukan sekadar menyusun rangkaian gerak kontemporer yang menarik secara visual.
Ia kemudian terus belajar dan membuktikan kemampuannya melalui berbagai kegiatan seni. Perjalanan panjang tersebut bahkan pernah mengantarkannya memperoleh pengakuan sebagai penata tari terbaik pada tingkat nasional.
Bagi Hasanuddin, pencapaian itu bukan alasan untuk berhenti. Ia justru semakin menaruh perhatian terhadap proses pewarisan sebuah karya.
Karya Tari Perlu Memiliki Akar yang Jelas
Hasanuddin melihat adanya tantangan baru dalam perkembangan tari Sumbawa. Menurut pengamatannya, sebagian karya baru hanya muncul ketika festival atau pertunjukan berlangsung. Setelah kegiatan selesai, karya tersebut tidak selalu terdokumentasi atau dipelajari kembali.
Situasi itu berbeda dengan sejumlah karya terdahulu yang tetap digunakan dan diwariskan hingga sekarang. Karena itu, ia menilai penciptaan tari membutuhkan gagasan dasar, hubungan dengan kebudayaan lokal, serta dokumentasi yang memadai.
Ia tidak mempermasalahkan generasi baru menggunakan karya terdahulu sebagai referensi. Namun, generasi berikutnya sebaiknya mengolah inspirasi tersebut menjadi sesuatu yang memiliki identitas sendiri.
Hasanuddin menilai mengambil beberapa gerakan dari karya berbeda kemudian menggabungkannya tanpa memahami konteks dapat membuat sebuah tarian kehilangan kesatuan gagasan. Kreativitas, menurut pandangannya, justru muncul ketika seniman mampu memahami sumber tradisi kemudian mengembangkannya melalui interpretasi baru.
Menjaga Seni Meski Apresiasi Materi Terbatas
Puluhan tahun berada di lingkungan kesenian tidak selalu menghasilkan keuntungan ekonomi bagi Hasanuddin. Ia mengenang masa ketika penari tampil menyambut tamu penting, termasuk tamu dari luar negeri, tetapi hanya menerima apresiasi sederhana setelah pertunjukan.
Kondisi tersebut tidak menghentikannya.
Selain menyusun gerakan, Hasanuddin mempelajari tata rias dan kostum dari almarhum Hamid yang menjadi salah satu gurunya. Kemampuan itu membuatnya dapat mengurus berbagai kebutuhan pertunjukan secara mandiri.
Ia pernah menerima bantuan dalam jumlah terbatas, kemudian menggunakannya untuk membeli kain. Bahan tersebut selanjutnya ia olah menjadi kostum penari. Orangtua para penari juga terkadang ikut menyediakan material yang diperlukan.
Semua pekerjaan itu dilakukan bukan untuk mengejar keuntungan. Tujuan utamanya adalah memastikan aktivitas kesenian tetap berjalan.
Arsip Gerak Tari yang Terancam Hilang
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Hasanuddin berkaitan dengan dokumentasi kebudayaan.
Pada 1981, sejumlah pelaku seni senior dari berbagai wilayah Sumbawa di kumpulkan untuk mendata gerak dasar tari. Para sesepuh tersebut berasal dari berbagai kawasan, mulai dari Empang di bagian timur hingga wilayah Sekongkang di sebelah barat. Di antara tokoh yang terlibat terdapat Mustakim Biawan dan Nurhayati.
Melalui proses tersebut, berbagai gerak seperti ompeng, kedo, linting kedo, dan jalan kurung dicatat serta disusun sebagai referensi. Dokumentasi sederhana itu kemudian menjadi salah satu fondasi dalam pengembangan karya tari berikutnya.
Sayangnya, sebagian besar arsip kebudayaan yang pernah di kumpulkan menghadapi kerusakan.
Hasanuddin mengatakan dokumen, foto lama, catatan kesenian, hingga media penyimpanan digital yang di tinggalkan di lingkungan instansi pemerintah mengalami kerusakan setelah tempat penyimpanannya terkena air akibat kebocoran.
Kehilangan arsip tersebut menjadi persoalan serius karena sebagian pengetahuan akhirnya hanya bertahan melalui ingatan orang-orang yang pernah terlibat langsung.

Hasanuddin (tengah pakaian hitam) bersama tim tari
Pengetahuan Budaya Tidak Boleh Bergantung pada Ingatan
Hasanuddin masih menyimpan banyak pengetahuan mengenai kebudayaan Samawa. Tidak hanya tari, ingatannya mencakup arsitektur rumah tradisional, pengobatan lokal, rangkaian upacara adat, siklus kehidupan masyarakat, serta berbagai bentuk kesenian.
Namun, kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya dokumentasi.
Pengetahuan yang hanya tersimpan dalam ingatan seseorang memiliki risiko hilang ketika tidak segera di pindahkan ke arsip tertulis, foto, audio, maupun video. Karena itu, Hasanuddin berharap pemerintah membangun program dokumentasi yang lebih terstruktur.
Setiap karya yang tampil dalam festival atau pergelaran, menurutnya, sebaiknya di catat dan di simpan. Dokumentasi tersebut nantinya dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Tari Sumbawa sebagai Warisan Bersama
Hasanuddin juga memiliki pandangan tersendiri mengenai kepemilikan karya yang bersumber dari tradisi.
Ia tidak menempatkan tarian ciptaannya semata-mata sebagai kepemilikan pribadi. Sebab, bahan utama penciptaannya berasal dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat Sumbawa.
Baginya, nama pencipta tetap dapat di catat sebagai bagian dari sejarah karya. Namun, tradisi yang menjadi fondasinya merupakan warisan bersama masyarakat.
Prinsip tersebut membuat tugas seorang seniman tidak berhenti setelah menghasilkan pertunjukan. Seniman juga memiliki peran merawat pengetahuan dan meneruskannya kepada generasi selanjutnya.
Melanjutkan Pengabdian Melalui Lembaga Adat
Setelah meninggalkan birokrasi, Hasanuddin melanjutkan kiprahnya melalui Lembaga Adat Tana Samawa. Ia juga di kenal memiliki keterlibatan dengan lingkungan Kesultanan Sumbawa.
Perubahan ruang pengabdian tersebut memberikan pengalaman berbeda. Ketika masih menjadi aparatur pemerintah, ia bekerja melalui program dan kebijakan. Sementara itu, keterlibatannya dalam lembaga adat membuatnya dapat berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat serta persoalan kebudayaan yang mereka hadapi.
Hasanuddin memandang adat dan budaya sebagai dua unsur yang saling berhubungan.
Dalam kehidupan masyarakat Samawa, adat tidak hanya terlihat melalui pertunjukan seni. Bahasa, cara bercocok tanam, pengetahuan tentang alam, penyambutan tamu, pengelolaan lingkungan, hingga berbagai ritual kehidupan juga menjadi bagian dari warisan tersebut.
Karena itulah, melemahnya adat dapat berdampak terhadap keberlanjutan berbagai unsur budaya lainnya.
Ikut Menjaga Cagar Budaya Kabupaten Sumbawa
Pengabdian Hasanuddin kini juga mencakup pelestarian benda dan bangunan bersejarah. Ia terlibat dalam tim cagar budaya Kabupaten Sumbawa.
Kabupaten tersebut telah memiliki 32 cagar budaya yang di tetapkan. Beberapa di antaranya adalah Istana Dalam Loka, Istana Bala Putih, dan Istana Bala Kuning. Pada 2026, terdapat dua objek lain yang direncanakan memperoleh penetapan sebagai cagar budaya.
Dalam aktivitasnya, Hasanuddin ikut melakukan pendataan, penelitian, dokumentasi, serta menyampaikan kembali berbagai pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan Samawa.
Perhatiannya membentang dari tari, bangunan tradisional, pengobatan, upacara adat, bahasa, sampai cerita rakyat. Luasnya bidang tersebut menunjukkan bahwa pelestarian kebudayaan membutuhkan kerja yang berkelanjutan dan tidak dapat hanya dilakukan ketika sebuah festival berlangsung.
Menyiapkan Warisan untuk Generasi Berikutnya
Lebih dari 43 tahun perjalanan Hasanuddin memperlihatkan bahwa menjaga kebudayaan bukan pekerjaan yang selesai melalui satu pertunjukan atau satu generasi.
Modernisasi membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat Sumbawa. Karena itu, proses pewarisan membutuhkan dokumentasi, pendidikan, kreativitas, dan keterlibatan generasi muda.
Hasanuddin tidak berharap generasi setelahnya sekadar menyalin apa yang telah di buat pendahulu mereka. Ia ingin mereka memahami akar sebuah tradisi, kemudian mengembangkannya menjadi karya baru tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi sumbernya.
Pada akhirnya, perjalanan Hasanuddin bukan hanya mengenai seorang penata tari. Kisahnya menggambarkan pentingnya orang-orang yang bersedia mencatat, mempelajari, mengajarkan, serta meneruskan warisan budaya.
Selama pengetahuan mengenai Samawa masih tersimpan dalam ingatannya, Hasanuddin memilih terus membagikannya. Baginya, kebudayaan tidak dapat mempertahankan keberadaannya secara otomatis. Selalu di butuhkan generasi yang bersedia merawat pengetahuan lama sekaligus memberikan ruang bagi lahirnya karya baru.