Bedog Kala Petok Sukabumi kini menjadi bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) setelah pemerintah menetapkannya sebagai salah satu peninggalan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan pengetahuan tradisional tinggi. Pengakuan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga keberadaan senjata pusaka masyarakat Sukabumi yang menyimpan jejak peradaban Nusantara.
Penetapan Bedog Kala Petok Sukabumi tidak hanya mengangkat keberadaan benda fisiknya, tetapi juga melindungi berbagai pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan proses pembuatannya. Di balik bentuk bilah besi yang khas, pusaka ini menyimpan pemahaman mengenai teknologi pengolahan logam, nilai spiritual, serta filosofi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Bedog Kala Petok Memiliki Nilai Budaya dan Teknologi Tradisional
Direktur Warisan Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kementerian Kebudayaan RI, Widiatmoko, menjelaskan bahwa pemerintah melihat Bedog Kala Petok dari dua unsur utama. Unsur pertama berasal dari produk fisiknya sebagai senjata tradisional masyarakat Sukabumi, sedangkan unsur kedua berkaitan dengan pengetahuan pembuatan pusaka tersebut.
Menurut Widiatmoko, proses pencatatan hingga penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menunjukkan bahwa Bedog Kala Petok memiliki kedudukan penting dalam sejarah kebudayaan daerah. Masyarakat Sukabumi tidak hanya mewariskan sebuah senjata, tetapi juga mempertahankan ilmu tradisional yang berkembang melalui generasi sebelumnya.
Pengetahuan mengenai pembuatan Bedog Kala Petok mencakup berbagai teknik, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan besi, pembakaran, penempaan, hingga tahap penyepuhan. Berbagai metode tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat Nusantara dalam mengembangkan teknologi metalurgi tradisional sejak masa lalu.
Widiatmoko menilai keberadaan pengetahuan tersebut memperkuat bukti bahwa bangsa Nusantara telah memiliki peradaban maju dalam mengolah sumber daya alam. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia melalui diplomasi kebudayaan.
Filosofi Pembuatan Bedog Kala Petok Sukabumi
Maestro Bedog Kala Petok, Fajar Laksana, mengungkapkan rasa syukurnya setelah pusaka tersebut melewati proses kajian akademis dan sidang penetapan WBTBI. Proses tersebut membutuhkan pembuktian sejarah, nilai budaya, serta keberlanjutan tradisi yang telah bertahan lintas generasi.
Fajar menjelaskan bahwa pembuatan Bedog Kala Petok tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis seorang pandai besi. Para pembuat pusaka juga menjalankan berbagai aturan tradisi dan laku spiritual sebagai bagian dari proses penciptaan.
Sebelum membuat pusaka, pembuat Bedog Kala Petok menjalankan rangkaian puasa tertentu. Tradisi tersebut mencakup puasa Senin-Kamis setiap minggu, puasa pertengahan bulan pada tanggal 13, 14, dan 15, serta puasa tahunan pada bulan Mulud.
Rangkaian tersebut memiliki makna mendalam yang menggambarkan proses pembentukan karakter manusia. Dalam filosofi pembuatannya, besi terlebih dahulu mengalami penyucian menggunakan air kelapa yang bercampur bunga. Tahapan itu melambangkan pentingnya membersihkan hati sebelum seseorang mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Setelah proses penyucian, pembuat pusaka membakar besi agar material tersebut menjadi lebih lunak. Tahapan berikutnya berupa penempaan yang menggambarkan kerja keras, ketekunan, dan proses menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Kemudian, pembuat pusaka melakukan penyepuhan dan pengukiran hingga menghasilkan bilah yang memiliki nilai estetika serta fungsi. Seluruh proses tersebut menggambarkan bahwa manusia juga membutuhkan pembinaan, pendidikan, dan pengalaman agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik.

Bedog Kala Petok Sukabumi.
Sejarah Panjang Bedog Kala Petok dari Banten hingga Sukabumi
Secara historis, Bedog Kala Petok memiliki hubungan erat dengan sejarah tokoh perjuangan masa lampau. Pusaka tersebut diwariskan melalui garis keluarga Fajar Laksana dari Raden Adang Sabini yang sebelumnya menerima warisan dari Raden Soemawinata.
Raden Soemawinata berasal dari Banten dan membawa tradisi pembuatan serta penggunaan pusaka tersebut ke wilayah Sukabumi sekitar tahun 1930-an. Jejak sejarah Bedog Kala Petok kemudian terhubung dengan Pangeran Sogiri, putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten.
Pangeran Sogiri dikenal sebagai salah satu tokoh yang berjuang bersama Pangeran Jayakarta dalam menghadapi kekuatan VOC Belanda. Hubungan sejarah tersebut membuat Bedog Kala Petok memiliki nilai lebih dari sekadar senjata tradisional.
Dalam penggunaannya pada masa lalu, Bedog Kala Petok bukan senjata utama dalam peperangan terbuka. Masyarakat menggunakan pusaka ini sebagai senjata pamungkas dalam pertarungan jarak dekat ketika senjata lain tidak lagi dapat di gunakan.
Fajar menjelaskan bahwa istilah Kala Petok memiliki filosofi tersendiri. Bedog berarti senjata, sementara Kala berkaitan dengan pengaturan waktu dan Petok menggambarkan jarak dekat. Oleh karena itu, pusaka ini memiliki makna sebagai alat perlindungan diri sekaligus simbol pendekatan spiritual kepada Tuhan.
Pengembangan Bedog Kala Petok sebagai Warisan Budaya Berkelanjutan
Kementerian Kebudayaan RI menegaskan bahwa penetapan Bedog Kala Petok sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia bukan menjadi akhir dari perjalanan tradisi tersebut. Pemerintah justru menjadikannya sebagai awal untuk memperkuat pelestarian dan pengembangan budaya lokal.
Ke depan, tradisi pembuatan Bedog Kala Petok serta seni bela diri silat aliran Sang Maung Bodas dapat di kembangkan melalui konsep living museum. Program tersebut di harapkan mampu memperkenalkan warisan budaya Sukabumi kepada masyarakat luas dan wisatawan.
Selain menjaga nilai sejarah, pengembangan tersebut juga berpotensi membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, Bedog Kala Petok Sukabumi tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari perkembangan budaya Indonesia di masa depan.