Festival Pegon 2026 yang digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan pada tahun 2026. Di tengah statusnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), pelaksanaan festival ini justru di hadapkan pada keterbatasan anggaran. Kondisi tersebut menimbulkan tantangan tersendiri bagi panitia dan komunitas pelestari budaya yang berupaya menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.

Festival Pegon tahun ini di jadwalkan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026, bertepatan dengan H+7 Lebaran. Acara ini akan di laksanakan di kawasan pesisir selatan Jember, yang selama ini menjadi pusat kegiatan budaya masyarakat setempat. Meskipun memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi, dukungan anggaran dari pemerintah daerah di nilai belum optimal.

Sejarah dan Nilai Budaya Pegon di Jember

Pegon merupakan alat transportasi tradisional yang telah di gunakan sejak tahun 1893. Kendaraan ini di tarik oleh dua ekor sapi dan di gunakan oleh masyarakat, khususnya di wilayah Jember selatan, untuk mengangkut hasil pertanian. Keberadaan Pegon tidak hanya mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga menjadi simbol kehidupan agraris masyarakat setempat.

Sebagai bagian dari identitas budaya, Pegon telah di akui sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Oleh karena itu, keberlangsungan festival yang mengangkat tradisi ini menjadi sangat penting dalam menjaga nilai-nilai budaya sekaligus memperkenalkan warisan lokal kepada generasi muda dan wisatawan.

Keterbatasan Dana dan Upaya Swadaya Masyarakat

Ketua Paguyuban Pelestarian Pegon Jember Selatan, Syamsul Arifin, mengungkapkan bahwa kebutuhan anggaran untuk penyelenggaraan Festival Pegon 2026 mencapai sekitar Rp 14,5 juta. Namun, bantuan yang di terima dari pemerintah daerah hanya sebesar Rp 7 juta. Kekurangan dana tersebut kemudian di tutupi melalui swadaya panitia dan peserta.

Dalam pelaksanaannya, berbagai kebutuhan seperti konsumsi, tumpeng, hingga penyediaan sound system dan pertunjukan seni di biayai secara mandiri. Para peserta bahkan menanggung sendiri biaya konsumsi selama kegiatan berlangsung. Pola gotong royong ini menunjukkan tingginya komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi, meskipun dengan keterbatasan sumber daya.

Situasi ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun sebelumnya, festival bahkan sempat tidak mendapatkan dukungan anggaran sama sekali akibat kebijakan efisiensi. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang pernah mendapatkan dukungan lebih besar, termasuk penggunaan jasa event organizer untuk meningkatkan kualitas acara.

Dampak Minimnya Dukungan terhadap Pengembangan Festival

Keterbatasan anggaran di nilai menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan Festival Pegon. Jika di bandingkan dengan periode sebelumnya, skala dan kualitas penyelenggaraan cenderung mengalami penurunan. Padahal, sebagai agenda tahunan yang masuk dalam kalender event daerah, festival ini memiliki potensi besar untuk di kembangkan sebagai daya tarik wisata budaya.

Selain itu, sempat muncul informasi mengenai rencana pengajuan anggaran hingga Rp 200 juta. Namun, rencana tersebut tidak terealisasi karena adanya kebijakan efisiensi anggaran. Kondisi ini semakin mempertegas tantangan yang di hadapi dalam upaya pelestarian budaya di tengah keterbatasan dana.

Festival Pegon 2026

Festival Pegon Waton di Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Dukungan Pemerintah Daerah dalam Bentuk Kolaborasi

Meskipun dukungan anggaran terbatas, pemerintah daerah tetap berupaya berkontribusi dalam penyelenggaraan Festival Pegon. Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Jember, Bobby Arie Sandi, menyatakan bahwa pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk kolaborasi, khususnya pada bagian akhir kegiatan.

Dukungan tersebut di fokuskan di kawasan Pantai Watu Ulo sebagai titik akhir festival. Di lokasi ini, akan di selenggarakan berbagai pertunjukan seni budaya, seperti reog dan kesenian tradisional lainnya. Upaya ini di harapkan dapat tetap memberikan nilai tambah bagi acara sekaligus menarik minat pengunjung.

Integrasi Tradisi Lokal dalam Festival

Festival Pegon tidak hanya menampilkan budaya lokal Jember, tetapi juga mencerminkan keberagaman budaya yang berkembang di wilayah tersebut. Selain budaya Jawa, pengaruh budaya Ponorogo juga cukup kuat, terutama melalui kesenian Reog yang menjadi bagian dari rangkaian acara.

Selain itu, festival ini juga bertepatan dengan tradisi ketupatan yang berlangsung di kawasan pesisir selatan. Integrasi berbagai tradisi ini menunjukkan kekayaan budaya yang di miliki masyarakat Jember serta potensi besar dalam pengembangan wisata berbasis budaya.

Komitmen Komunitas dalam Melestarikan Warisan Budaya

Di tengah berbagai keterbatasan, komunitas pelestari Pegon tetap menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga tradisi. Semangat gotong royong menjadi kunci utama dalam memastikan festival tetap terlaksana setiap tahun.

Keberlanjutan Festival Pegon menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada dukungan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif masyarakat. Dengan kolaborasi yang lebih baik antara pemerintah dan komunitas, di harapkan festival ini dapat berkembang lebih optimal di masa mendatang.