Fenomena Matahari Merah – Pemandangan berbeda muncul di langit Medan, Sumatera Utara, pada Minggu, 6 September 2026. Menjelang malam, matahari terlihat memiliki warna merah yang lebih kuat dari biasanya. Warga yang menyaksikan kejadian tersebut kemudian mengabadikannya melalui foto dan video hingga ramai beredar di media sosial.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan keadaan atmosfer. Matahari tidak mengalami perubahan warna secara fisik. Sebaliknya, partikel yang terdapat di udara memengaruhi cahaya sebelum mencapai penglihatan manusia.

Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menyebut fenomena tersebut terpantau sekitar pukul 17.00 hingga 20.00 WIB. BBMKG selanjutnya memeriksa sejumlah parameter untuk mengetahui kondisi udara ketika matahari tampak kemerahan.

Pemeriksaan PM2.5 Tidak Mengarah pada Abu Vulkanik

Pengamatan terhadap Particulate Matter atau PM2.5 tidak memperlihatkan indikasi material yang berasal dari aktivitas gunung api maupun kebakaran hutan. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, BBMKG menduga polutan yang tersebar di atmosfer Medan ikut memengaruhi tampilan matahari.

Selain memeriksa partikel udara, petugas menggunakan data Campbell Stokes. Perangkat tersebut berfungsi mencatat durasi penyinaran matahari. Hasil pengamatan menunjukkan sinar matahari tetap mampu mencapai permukaan bumi.

Namun, cahaya yang bergerak menuju permukaan harus melewati atmosfer. Ketika udara mengandung sejumlah partikel, sebagian komponen cahaya dapat mengalami penyebaran maupun penyerapan. Kondisi tersebut akhirnya memengaruhi warna yang diterima mata manusia.

Warna merah kemudian terlihat lebih dominan karena komponen cahaya lainnya mengalami proses hamburan selama melewati lapisan atmosfer.

Partikel Udara Memengaruhi Penyebaran Cahaya

Forecaster on Duty BBMKG Wilayah I Medan, Ilham Haris Batubara, menerangkan bahwa partikel seperti aerosol, debu, dan asap dapat memengaruhi perjalanan cahaya matahari di atmosfer.

Dalam kondisi tertentu, cahaya berwarna biru mengalami hamburan lebih besar. Sementara itu, warna merah dan jingga lebih mudah terlihat oleh pengamat di permukaan. Akibatnya, matahari dapat tampak lebih merah meskipun tidak mengalami perubahan warna sebenarnya.

Efek tersebut biasanya semakin jelas ketika matahari berada dekat cakrawala. Pada pagi maupun sore hari, cahaya menempuh jalur yang lebih panjang di atmosfer. Karena itu, interaksi antara cahaya dan partikel udara juga menjadi lebih besar.

Kondisi ini menjelaskan mengapa warna merah atau jingga kerap terlihat lebih kuat ketika matahari baru terbit atau menjelang terbenam.

Fenomena matahari merah terlihat di langit Kota Medan Sumatera Utara

Fenomena Matahari Merah Gegerkan Warga Medan, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Udara Kabur Terpantau di Medan

BBMKG juga mencatat adanya haze atau udara kabur di Medan dan daerah sekitarnya pada sore hingga malam ketika fenomena berlangsung. Keadaan tersebut memperkuat dugaan mengenai keberadaan aerosol atau partikel kecil di atmosfer.

Partikel yang melayang di udara berperan seperti penyaring terhadap cahaya yang melewatinya. Akibat proses tersebut, komposisi cahaya yang sampai kepada pengamat dapat berbeda dari kondisi atmosfer yang lebih bersih.

Dengan demikian, tampilan merah yang disaksikan masyarakat merupakan fenomena optik atmosfer. Warna matahari sebenarnya tidak berubah. Kondisi udara di antara matahari dan pengamatlah yang membuat cahaya merah terlihat lebih menonjol.

Hujan Membantu Membersihkan Atmosfer

Kondisi udara kemudian berubah setelah hujan turun. Menurut Hendro, hujan membantu membersihkan polutan yang sebelumnya berada di atmosfer. Partikel yang melayang dapat terbawa air menuju permukaan sehingga jumlahnya di udara berkurang.

Perubahan tersebut membuat kondisi atmosfer menjadi lebih bersih dibandingkan saat fenomena matahari merah berlangsung.

BBMKG meminta masyarakat tetap tenang apabila menjumpai fenomena serupa. Perubahan warna yang terlihat dapat terjadi akibat proses penyaringan dan hamburan cahaya oleh partikel di atmosfer.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu memperhatikan kualitas udara di lingkungan masing-masing. Kondisi udara kabur atau meningkatnya konsentrasi partikel dapat menjadi alasan untuk lebih waspada terhadap kualitas udara.

Fenomena matahari merah di Medan pada akhirnya menunjukkan bahwa kondisi atmosfer dapat memengaruhi tampilan benda langit dari permukaan bumi. Interaksi cahaya dengan aerosol, debu maupun polutan membuat warna tertentu menjadi lebih dominan, tanpa menyebabkan perubahan pada matahari itu sendiri.