Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 – kembali menjadi bagian dari kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Palembang. Pemerintah Kota Palembang menghadirkan agenda tahunan ini sebagai pesta rakyat sekaligus upaya menjaga tradisi masyarakat yang tumbuh di sekitar Sungai Musi.

Perlombaan perahu bidar telah lama menjadi daya tarik bagi masyarakat Palembang. Selain menghadirkan persaingan antartim, festival tersebut juga memperlihatkan kekompakan para pendayung dalam mengendalikan perahu berukuran panjang.

Pada 2026, masyarakat kembali dapat menyaksikan keseruan perlombaan tersebut. Namun, penyelenggara melakukan penyesuaian lokasi dibandingkan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya.

Mengenal Tradisi Perahu Bidar di Palembang

Perahu bidar merupakan jenis perahu panjang yang dapat melaju dengan cepat dan masyarakat biasa menggunakannya dalam perlombaan tradisional. Keberadaan perahu ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Palembang dan Sungai Musi.

Tradisi lomba bidar biasanya hadir untuk memeriahkan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus. Karena itu, masyarakat menjadikan perlombaan tersebut sebagai salah satu agenda yang mereka nantikan setiap tahun.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, peserta berlomba di kawasan Sungai Musi dengan rute yang membentang dari Dermaga Ferry menuju kawasan Benteng Kuto Besak. Panjang lintasan perlombaan mencapai kurang lebih dua kilometer.

Perlombaan tidak hanya mengandalkan kecepatan. Para peserta juga membutuhkan kekompakan, kekuatan fisik, serta kemampuan menjaga ritme kayuhan. Kesalahan dalam mengatur tempo dapat memengaruhi kecepatan perahu selama perlombaan.

Karakteristik Perahu Bidar Tradisional

Pembuat perahu bidar memilih material kayu yang kuat dan memiliki ketahanan terhadap air. Beberapa jenis kayu yang dapat digunakan antara lain bulian, rengas, merawan, bulu tupai, dan meranti payo.

Perahu bidar memiliki ukuran yang cukup besar. Panjangnya berkisar antara 24 hingga 30 meter. Sementara itu, lebarnya sekitar 75 sampai 100 sentimeter dengan tinggi antara 60 hingga 100 sentimeter.

Ukuran tersebut memungkinkan satu perahu membawa puluhan awak sekaligus. Dalam sebuah perlombaan, setiap tim dapat beranggotakan sekitar 45 hingga 58 orang. Mereka memiliki tugas masing-masing, mulai dari pendayung, juru kemudi, hingga ketua regu.

Ketua regu memegang peranan penting sepanjang perlombaan. Ia memberikan aba-aba kepada para pendayung agar mereka mampu menjaga irama kayuhan. Selain itu, ketua regu terus membangkitkan semangat anggota tim untuk mempertahankan kecepatan hingga mencapai garis finis.

Setiap tim biasanya juga tampil dengan identitas berbeda. Para awak mengenakan kostum khusus, seperti pakaian bernuansa adat maupun seragam berwarna mencolok. Penampilan tersebut membuat suasana perlombaan semakin meriah.

Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 di Palembang

Ilustrasi Perahu Bidar

Sistem Perlombaan Perahu Bidar

Panitia biasanya mempertemukan dua atau tiga perahu dalam setiap putaran perlombaan. Seluruh peserta harus mengerahkan kemampuan terbaik sejak garis start untuk mendapatkan posisi terdepan.

Tim yang mencapai garis finis lebih cepat berhak melanjutkan persaingan menuju babak berikutnya. Setelah melewati beberapa putaran, peserta terbaik akan bersaing pada semifinal hingga final untuk menentukan juara.

Sistem tersebut membuat setiap pertandingan berlangsung kompetitif. Para pendayung harus mempertahankan konsentrasi dan kekompakan karena selisih waktu antartim dapat menentukan hasil perlombaan.

Panitia juga menyiapkan berbagai penghargaan untuk tim yang berhasil meraih prestasi. Hadiah dapat berupa uang tunai, barang elektronik, hingga paket kebutuhan pokok.

Jadwal Festival Perahu Bidar Tradisional 2026

Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 dijadwalkan berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026. Pelaksanaan festival bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbeda dari sejumlah penyelenggaraan sebelumnya, festival tahun ini mengambil lokasi di Plaza 7 Ulu. Dengan demikian, masyarakat yang ingin menyaksikan perlombaan perlu memperhatikan perubahan tempat tersebut.

Sebelumnya, kawasan Benteng Kuto Besak atau BKB menjadi salah satu lokasi utama penyelenggaraan festival. Namun, proses revitalisasi di kawasan BKB membuat penyelenggara mengalihkan kegiatan tahun ini ke Plaza 7 Ulu.

Perubahan lokasi juga mempertimbangkan kebutuhan teknis selama pelaksanaan acara. Penyelenggara berupaya menciptakan festival yang aman dan nyaman sehingga masyarakat dapat menikmati rangkaian kegiatan dengan lebih baik.

Menjaga Warisan Budaya Sungai Musi

Perpindahan lokasi tidak mengurangi nilai budaya yang melekat pada Festival Perahu Bidar Tradisional 2026. Perlombaan ini tetap membawa semangat kebersamaan, sportivitas, serta kecintaan masyarakat terhadap budaya Sungai Musi.

Festival tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan tradisi perahu bidar kepada generasi muda. Melalui penyelenggaraan secara rutin, masyarakat dapat terus mengenal salah satu warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas Palembang.

Selain itu, festival mampu menciptakan suasana berbeda dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Masyarakat dapat berkumpul bersama keluarga maupun teman sambil menyaksikan perjuangan puluhan pendayung membawa timnya menuju garis finis.

Kehadiran Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 sekaligus menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya daerah. Setiap kayuhan para peserta bukan hanya menjadi bagian dari kompetisi, tetapi juga menggambarkan semangat menjaga tradisi yang telah berkembang di Palembang.

Karena itu, masyarakat Palembang dan daerah sekitarnya dapat menjadikan Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 sebagai salah satu agenda untuk memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia. Pelaksanaan di Plaza 7 Ulu pada 17 Agustus 2026 diharapkan kembali menghadirkan kemeriahan sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Sungai Musi.