Hajat Bumi Cariu – Suasana berbeda tampak menyelimuti Dusun Cariu, Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, pada Senin, 22 Juni 2026. Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai kalangan mulai memadati lapangan desa untuk mengikuti pelaksanaan Hajat Bumi Cariu, sebuah tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun dan rutin digelar setiap dua tahun sekali.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya masyarakat setempat, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang melimpah. Selain itu, Hajat Bumi juga menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Hajat Bumi Menjadi Simbol Syukur atas Hasil Panen

Salah satu daya tarik utama dalam pelaksanaan Hajat Bumi Cariu adalah keberadaan balandongan yang berdiri megah di tengah lapangan. Bangunan sederhana tersebut dihiasi berbagai hasil bumi yang disusun dengan rapi dan menarik dalam bentuk rambangan.

Berbagai jenis sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, makanan tradisional, hingga hasil olahan masyarakat menghiasi balandongan dengan warna-warni yang memikat perhatian pengunjung. Seluruh hasil bumi yang di pajang merupakan hasil panen dan produksi warga sendiri tanpa membeli dari pasar.

Tradisi ini menjadi bentuk nyata rasa syukur masyarakat atas nikmat yang telah di berikan selama dua tahun terakhir. Oleh karena itu, setiap keluarga berpartisipasi dengan membawa hasil kebun terbaik sebagai bentuk persembahan sekaligus kebanggaan terhadap hasil kerja mereka.

Persiapan Dilakukan Melalui Semangat Gotong Royong

Pelaksanaan Hajat Bumi tidak hanya berlangsung pada hari puncak acara. Sejumlah rangkaian kegiatan telah di mulai sejak Sabtu, 20 Juni 2026. Pada hari tersebut, masyarakat bersama-sama melakukan kegiatan ngahias atau majang, yaitu menghias lokasi acara sekaligus memasang hasil bumi pada balandongan.

Suasana kebersamaan begitu terasa ketika seluruh warga saling membantu menata berbagai perlengkapan acara. Tradisi gotong royong tersebut menjadi salah satu nilai penting yang terus di jaga oleh masyarakat Cariu.

Selain itu, berbagai kegiatan keagamaan dan perlombaan turut memeriahkan rangkaian acara. Di antaranya adalah lomba memasak liwet, tahlil akbar, tausiah sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi, hingga tawasulan di Situs Makam Cariu yang di kenal sebagai makam Eyang Candradirana.

Tokoh tersebut di percaya sebagai Kuwu atau pemimpin pertama yang memiliki peran besar dalam membuka serta membangun kawasan Cariu pada masa lampau. Karena jasanya, masyarakat masih memberikan penghormatan melalui doa bersama setiap pelaksanaan Hajat Bumi.

Warga mengikuti tradisi Hajat Bumi Cariu 2026 di Dusun Cariu, Ciamis.

Tradisi Hajar Bumi Cariu di Dusun Cariu Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis.

Kesenian Tradisional Menjadi Daya Tarik Utama

Memasuki hari puncak pelaksanaan, berbagai pertunjukan seni tradisional mulai di pentaskan sejak pagi hari. Salah satunya adalah Seni Tutunggulan dan Ngangkring yang di mainkan menggunakan lisung dan halu.

Kesenian tersebut menggambarkan aktivitas masyarakat tempo dulu saat menumbuk padi sebelum menjadi beras. Menariknya, pertunjukan ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, sehingga menjadi sarana mengenalkan budaya kepada generasi muda.

Setelah itu, acara di lanjutkan dengan rajah bubuka, doa bersama, sambutan dari berbagai pihak, serta pertunjukan budaya lainnya. Memasuki waktu siang, masyarakat kembali di suguhkan penampilan ibing ronggeng yang menjadi hiburan paling di nanti dalam tradisi Hajat Bumi.

Suasana semakin meriah ketika para tokoh masyarakat, tamu undangan, hingga pejabat daerah ikut menari bersama para ronggeng. Gelak tawa dan tepuk tangan warga pun mengiringi alunan musik tradisional yang di mainkan sepanjang acara.

Prosesi Sakral Menutup Rangkaian Hajat Bumi

Menjelang malam, rangkaian acara memasuki prosesi adat yang di anggap paling sakral. Masyarakat melaksanakan Upacara Mapag Kuncen sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga adat sekaligus simbol penghargaan terhadap warisan leluhur.

Setelah prosesi tersebut selesai, kegiatan di lanjutkan dengan Helaran Oncor atau pawai obor yang mengiringi pusaka Goong dan Kenong Cariu Kolot. Cahaya obor yang menyala sepanjang perjalanan menghadirkan suasana khidmat sekaligus memperlihatkan kuatnya nilai budaya yang masih di jaga masyarakat hingga sekarang.

Hajat Bumi Menjadi Sarana Pelestarian Budaya

Sesepuh Dusun Cariu, Masduki, menjelaskan bahwa Hajat Bumi merupakan tradisi kearifan lokal yang telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Walaupun waktu pasti awal pelaksanaannya tidak di ketahui, masyarakat meyakini tradisi tersebut telah di wariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, Hajat Bumi bukan hanya bentuk ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi pengingat agar masyarakat tetap menghormati jasa para leluhur yang telah membangun kampung.

Lebih jauh lagi, tradisi ini memiliki fungsi edukatif bagi generasi muda. Anak-anak di ajak memahami sejarah daerahnya sehingga tumbuh rasa memiliki serta kecintaan terhadap budaya lokal yang di wariskan oleh para pendahulu.

Sebagai penutup rangkaian acara, masyarakat mengikuti tradisi Nyalar menjelang tengah malam. Dalam prosesi tersebut, warga mengambil hasil bumi dan makanan yang sebelumnya di pajang di rambangan. Seluruh kegiatan berlangsung dengan tertib, penuh kegembiraan, tanpa adanya perebutan.

Bagi masyarakat Cariu, Nyalar memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar membawa pulang hasil bumi. Tradisi tersebut melambangkan keberkahan, persatuan, rasa syukur, serta semangat gotong royong yang terus di pelihara dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui Hajat Bumi, warga Dusun Cariu tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Tidak mengherankan apabila tradisi ini tetap bertahan hingga kini dan menjadi salah satu warisan budaya yang membanggakan Kabupaten Ciamis.