Pasangan ganda putri Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma dan Meilysa Trias Puspitasari, menunjukkan sikap profesional setelah langkah mereka terhenti di babak perempatfinal Malaysia Open 2026. Meski gagal melaju lebih jauh, keduanya menegaskan komitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh demi meningkatkan performa pada turnamen-turnamen berikutnya.
Turnamen pembuka tahun 2026 tersebut menjadi tolok ukur awal bagi Ana dan Trias dalam memulai musim kompetisi. Mereka menilai hasil yang di raih bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pembelajaran menuju level permainan yang lebih matang dan konsisten.
Evaluasi Menjadi Fokus Utama Pasca Kekalahan
Dalam pertandingan perempatfinal yang berlangsung di Axiata Arena, Kuala Lumpur, pasangan Indonesia harus mengakui keunggulan wakil Korea Selatan melalui laga tiga gim yang berlangsung ketat. Meski sempat unggul di gim pertama, Ana/Trias akhirnya kehilangan momentum dan harus rela tersingkir.
Febriana Dwipuji Kusuma mengungkapkan bahwa dirinya dan sang partner telah berusaha tampil maksimal sepanjang pertandingan. Seluruh strategi dan pola permainan yang telah di persiapkan dalam latihan sudah mereka terapkan di lapangan. Namun, hasil akhir belum berpihak kepada mereka.
Menurut Febriana, salah satu aspek utama yang perlu di perbaiki adalah konsistensi fokus selama pertandingan. Ia menilai fokus menjadi kunci penting dalam menjaga akurasi pukulan serta ketepatan pergerakan di lapangan, terutama ketika pertandingan memasuki fase krusial.

Ana/Trias gugur di perempatfinal Malaysia Open 2026.
Performa Awal Musim Dinilai Cukup Positif
Meski harus tersingkir di perempatfinal, Febriana menilai pencapaian tersebut tetap memberikan sinyal positif untuk awal musim 2026. Sebagai turnamen pertama di tahun baru, Malaysia Open di anggap mampu memberikan gambaran tentang perkembangan performa mereka sejauh ini.
Ia menambahkan bahwa terdapat peningkatan di bandingkan performa sebelumnya, meskipun masih ada sejumlah aspek teknis dan nonteknis yang perlu di benahi. Evaluasi menyeluruh akan menjadi dasar dalam menyusun program latihan berikutnya agar kekurangan yang ada bisa segera di perbaiki.
Motivasi untuk meraih hasil lebih baik pun semakin kuat. Pasangan ini bertekad menjadikan kegagalan sebagai bahan bakar untuk tampil lebih kompetitif di ajang internasional selanjutnya.
Banyak Pelajaran Berharga dari Malaysia Open 2026
Senada dengan rekannya, Meilysa Trias Puspitasari juga mengakui bahwa Malaysia Open 2026 memberikan banyak pelajaran penting. Ia menyoroti kemampuan adaptasi terhadap perubahan strategi lawan sebagai salah satu hal yang harus di tingkatkan.
Menurut Meilysa, pada gim-gim penentuan, lawan mulai mengubah pola permainan dengan mengajak reli panjang serta menghindari permainan cepat yang sebelumnya menguntungkan pasangan Indonesia. Perubahan tersebut menuntut kesiapan fisik dan mental yang lebih kuat, terutama dalam bertahan dan membaca arah permainan.
Ia menilai bahwa ketahanan dalam bertahan serta kesiapan menghadapi variasi strategi lawan menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera di benahi. Dengan evaluasi yang tepat, Meilysa optimistis kemampuan mereka akan semakin berkembang.
Target Tinggi untuk Musim 2026
Menghadapi sisa musim 2026, Ana/Trias memasang target yang tidak main-main. Mereka menargetkan gelar juara di turnamen internasional dan berambisi naik ke podium tertinggi. Target tersebut menjadi motivasi tambahan untuk menjalani latihan dengan lebih di siplin dan terarah.
Sebagai atlet muda dengan potensi besar, pasangan ganda putri ini menyadari bahwa konsistensi dan kesiapan mental menjadi faktor penentu untuk bersaing di level elite. Dengan semangat evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, mereka optimistis dapat menghadirkan prestasi membanggakan bagi Indonesia.
Kegagalan di Malaysia Open 2026 bukanlah akhir, melainkan langkah awal dalam perjalanan panjang menuju puncak prestasi. Dengan kerja keras, evaluasi yang matang, dan mental juara, Ana/Trias siap menatap turnamen berikutnya dengan kepercayaan diri yang lebih kuat.