Penyakit Cacingan Pada Anak hingga saat ini masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok anak-anak di Indonesia. Penyakit ini sering kali di picu oleh kebiasaan sehari-hari yang tampak sederhana, seperti bermain di tanah tanpa alas kaki atau kurangnya kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Meskipun terlihat sepele, infeksi cacing memiliki dampak yang signifikan terhadap status gizi, daya tahan tubuh, serta proses tumbuh kembang anak.
Cacingan merupakan infeksi parasit yang menyerang saluran pencernaan manusia. Infeksi ini terjadi ketika telur atau larva cacing masuk ke dalam tubuh, baik melalui tangan yang terkontaminasi, makanan yang tidak higienis, maupun kontak langsung dengan tanah yang mengandung parasit. Kondisi lingkungan yang kurang bersih dan sanitasi yang belum optimal menjadi faktor pendukung tingginya kasus kecacingan di Indonesia.
Anak sebagai Kelompok Rentan Terinfeksi Cacing
Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kecacingan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran dalam menjaga kebersihan diri serta tingginya aktivitas bermain di lingkungan terbuka. Menurut dr. Yenny Rachmawati, kebiasaan tidak menggunakan alas kaki dan tidak mencuci tangan sebelum makan dapat menjadi pintu masuk parasit cacing ke dalam tubuh anak.
Meskipun orang dewasa juga berisiko terinfeksi, prevalensinya cenderung lebih rendah. Faktor seperti tingkat kebersihan yang lebih baik serta sistem imun yang relatif lebih kuat membuat orang dewasa memiliki daya tahan yang lebih tinggi di bandingkan anak-anak. Namun demikian, kecacingan tetap dapat terjadi pada semua kelompok usia apabila perilaku hidup bersih dan sehat tidak di terapkan secara konsisten.

Ilustrasi Anak-anak.
Indonesia sebagai Negara Endemis Kecacingan
Indonesia masih di kategorikan sebagai negara endemis kecacingan. Data menunjukkan bahwa sekitar 20–30 persen anak di Indonesia pernah mengalami infeksi cacing. Angka ini bahkan dapat meningkat hingga 60–90 persen di daerah terpencil atau wilayah dengan akses sanitasi yang terbatas. Tingginya prevalensi ini menunjukkan bahwa kecacingan masih menjadi tantangan besar dalam upaya peningkatan derajat kesehatan anak.
Beberapa jenis cacing yang umum menginfeksi manusia antara lain cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma dan Necator), cacing cambuk (Trichuris trichiura), serta cacing kremi (Enterobius vermicularis). Sebagian besar penularan terjadi melalui tanah yang telah terkontaminasi telur cacing, sehingga penyakit ini sering di kaitkan dengan kondisi lingkungan dan kebersihan personal.
Dampak Infeksi Cacing terhadap Kesehatan Anak
Infeksi cacing sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Apabila jumlah cacing di dalam tubuh masih sedikit, anak mungkin tidak merasakan keluhan yang berarti. Kondisi inilah yang menyebabkan kecacingan kerap tidak terdeteksi sejak dini.
Namun, ketika jumlah cacing meningkat, berbagai gangguan kesehatan dapat muncul. Anak dapat mengalami penurunan nafsu makan, kekurangan gizi, anemia, nyeri perut, diare, serta rasa gatal di sekitar anus yang dapat mengganggu kualitas tidur. Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi cacing bahkan berpotensi menyebabkan sumbatan usus yang memerlukan tindakan medis hingga operasi.
Lebih lanjut, kecacingan juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stunting pada anak. Nutrisi yang seharusnya di serap oleh tubuh justru di konsumsi oleh parasit, sehingga pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak menjadi terhambat. Akibatnya, daya tahan tubuh anak menurun dan risiko terkena penyakit lain menjadi lebih tinggi.
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Kecacingan
Pencegahan kecacingan dapat di lakukan melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat secara konsisten. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar rumah merupakan langkah sederhana namun efektif. Selain itu, penggunaan alas kaki saat bermain atau beraktivitas di lingkungan luar rumah dapat mencegah masuknya larva cacing melalui kulit.
Kebersihan makanan juga perlu di perhatikan dengan memastikan makanan di konsumsi dalam kondisi bersih dan matang. Di tingkat kebijakan, pemerintah telah menjalankan program pemberian obat cacing secara berkala setiap enam bulan sekali bagi seluruh kelompok usia sebagai upaya pencegahan jangka panjang.
Kesadaran bahwa kecacingan bukanlah penyakit ringan perlu terus di tingkatkan. Pencegahan yang di lakukan sejak dini di nilai jauh lebih efektif dan efisien di bandingkan pengobatan ketika infeksi sudah terjadi. Dengan sinergi antara perilaku individu, peran keluarga, serta dukungan program kesehatan masyarakat, risiko kecacingan pada anak dapat di tekan secara signifikan.