Fashion Festival 2026 – Pertunjukan mode selalu menjadi ruang untuk menyampaikan cerita melalui karya busana. Hal itulah yang berhasil di tampilkan dalam koleksi bertajuk Garuda, hasil kolaborasi desainer asal Prancis, Mickael Nana, bersama desainer Indonesia, Beatrice Angelica. Keduanya menghadirkan interpretasi baru mengenai simbol Garuda dalam sebuah peragaan busana di JF3 Fashion Festival 2026.

Alih-alih menghadirkan sosok Garuda secara harfiah, kedua desainer memilih menyampaikan maknanya melalui perpaduan warna, tekstur, hingga teknik pembuatan kain tradisional Indonesia. Koleksi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kekayaan budaya Nusantara dapat berpadu harmonis dengan pendekatan desain modern dan internasional.

Koleksi Garuda Hadir Lewat Nuansa Alam Nusantara

Suasana pertunjukan semakin terasa dramatis berkat iringan musik bernuansa tradisional dengan tabuhan perkusi dan dentuman terompet. Tata cahaya yang menyerupai kabut pegunungan turut memperkuat atmosfer ketika para model mulai berjalan di atas runway.

Meski mengangkat tema Garuda, koleksi yang di tampilkan tidak menampilkan bentuk burung mitologi tersebut secara eksplisit. Sebaliknya, inspirasi Garuda di wujudkan melalui pilihan warna yang terinspirasi dari bentang alam Indonesia.

Palet warna yang mendominasi koleksi meliputi cokelat tanah, tan, arang, merah tanah, hingga gading. Warna-warna tersebut menciptakan kesan hangat sekaligus merepresentasikan kekayaan lanskap Nusantara.

Sebanyak sepuluh tampilan siap pakai diperkenalkan dalam koleksi ini dengan komposisi seimbang untuk busana pria dan wanita. Setiap rancangan memanfaatkan tiga jenis tekstil tenun eksklusif yang di kembangkan bersama para perajin perempuan di Lombok menggunakan teknik songket dan tenun tradisional.

Selanjutnya, kain-kain tersebut di padukan dengan material lain seperti denim, beludru, hingga bahan teknis modern. Perpaduan itu menghasilkan siluet busana yang kokoh, namun tetap memiliki karakter tekstur yang kaya.

Perpaduan Inspirasi Tradisional dan Modern

Dalam proses kreatifnya, Mickael Nana dan Beatrice Angelica mengambil inspirasi dari berbagai sumber visual. Salah satunya berasal dari dokumentasi Indonesia pada penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang memperlihatkan bagaimana busana tradisional pernah berkembang berdampingan dengan gaya berpakaian Eropa.

Selain itu, teknik draping tradisional, penggunaan kain lilit, serta pendekatan tailoring khas era 1970 hingga 1980-an turut menjadi referensi utama. Pengaruh budaya populer juga hadir melalui inspirasi dari figur seperti Lenny Kravitz, Erykah Badu, hingga Lauryn Hill.

Perpaduan berbagai referensi tersebut menciptakan koleksi yang terasa modern tanpa meninggalkan identitas budaya Indonesia.

Salah satu tampilan yang menarik perhatian di peragakan oleh Yanu, pemenang JF3 Model Search 2025. Ia mengenakan jubah panjang bermotif tenun yang di padukan dengan celana bermotif serupa.

Walaupun desainnya terlihat sederhana, detail motif tenun yang rumit membuat keseluruhan tampilan tampak berkelas. Bahkan saat model berjalan, bobot kain menciptakan efek gerakan yang tegas sehingga memberikan kesan kuat dan elegan.

Struktur Asimetris Menjadi Ciri Khas Koleksi

Sepanjang pertunjukan, kedua desainer konsisten mengeksplorasi permainan struktur dalam setiap busana. Salah satu elemen yang paling sering muncul ialah potongan asimetris yang memberikan karakter berbeda pada setiap tampilan.

Perubahan ritme koleksi terlihat jelas ketika sebuah jaket asimetris berwarna kuning neon di padukan dengan kain lilit bernuansa netral. Perpaduan warna mencolok dan warna alami tersebut sengaja di hadirkan untuk menciptakan kejutan di tengah pertunjukan.

Menurut Mickael Nana, setiap koleksi busana harus mampu membangun alur cerita sehingga tidak semua tampilannya di buat seragam.

Ia menilai variasi desain justru membuat penonton lebih mudah menikmati perjalanan visual dari awal hingga akhir pertunjukan. Oleh sebab itu, beberapa busana sengaja di rancang lebih berani, termasuk penggunaan tank top mencolok serta bubble shorts sebagai elemen kejutan.

Sementara itu, Beatrice Angelica menjelaskan bahwa warna neon di pilih bukan semata sebagai aksen visual. Warna tersebut juga identik dengan konsep utility wear yang biasa di gunakan pada perlengkapan luar ruangan agar lebih mudah terlihat dalam berbagai kondisi.

Model memperagakan koleksi Garuda karya Mickael Nana dan Beatrice Angelica di JF3 Fashion Festival 2026 dengan sentuhan tenun Lombok dan desain modern.

Mickhael Nana x Beatrice Angelica membawakan koleksi GARUDA pada BRI JF3 Fashion Festival 2026, Kamis (23/7/2026) di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading

Semangat Bhinneka Tunggal Ika Tersirat dalam Detail Koleksi

Kolaborasi antara desainer Indonesia dan Prancis menjadi simbol nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika. Namun, makna tersebut tidak hanya hadir melalui kerja sama lintas negara, melainkan juga di wujudkan dalam berbagai detail koleksi.

Salah satunya terlihat pada penggunaan kain beludru khusus yang di kembangkan selama proses residensi. Motif abstrak pada kain tersebut sebenarnya merupakan interpretasi artistik dari gugusan pulau-pulau di Indonesia.

Melalui pendekatan tersebut, Beatrice ingin menghadirkan representasi keindahan kepulauan Indonesia beserta keberagaman budayanya dalam sebuah karya mode.

Di sisi lain, Mickael melihat nilai persatuan Indonesia tercermin melalui keberanian memadukan berbagai jenis material, tekstur, dan siluet dalam satu koleksi yang utuh. Menurutnya, keberagaman kain menjadi simbol dari banyaknya budaya, bahasa, dan identitas yang hidup berdampingan di Indonesia.

Selain kain tenun dan beludru, salah satu rancangan yang mencuri perhatian ialah busana berhias manik-manik dengan pola geometris yang rumit. Detail tersebut memperlihatkan tingkat keterampilan tinggi para perajin yang terlibat dalam proses produksinya.

Kolaborasi Bersama Perajin Lokal Jadi Kunci Kesuksesan Koleksi

Kesuksesan koleksi Garuda tidak lepas dari kontribusi berbagai perajin lokal yang terlibat selama proses kreatif berlangsung. Beatrice Angelica mengungkapkan bahwa sejumlah pengrajin songket, studio manik-manik, hingga pengrajin tekstil ikut memberikan kontribusi penting dalam menghasilkan setiap karya.

Selain itu, seorang perajin bernama Hadis juga memiliki peran besar selama program residensi berlangsung. Workshop miliknya menjadi tempat berbagai eksperimen tekstil dilakukan hingga akhirnya melahirkan beragam material yang di gunakan dalam koleksi Garuda.

Proses pengembangan kain berlangsung selama beberapa hari secara intensif untuk menghasilkan berbagai jenis tekstil baru yang kemudian di terapkan dalam keseluruhan koleksi.

Beatrice dan Mickael Bersiap Menapaki Langkah Berikutnya

Setelah program residensi berakhir, kedua desainer akan melanjutkan perjalanan kreatif mereka masing-masing.

Beatrice Angelica saat ini tengah mempersiapkan peluncuran koleksi ready-to-wear perdana untuk label fesyennya, Noen. Rencananya, koleksi tersebut akan di perkenalkan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan dengan fokus utama menyasar pasar Indonesia.

Sementara itu, Mickael Nana akan kembali ke Paris untuk merilis koleksi ready-to-wear pertama dari label miliknya, Marlon Nana. Peluncuran tersebut di jadwalkan berlangsung bersamaan dengan rangkaian Paris Fashion Week pada September mendatang.

Melalui kolaborasi Garuda, keduanya berhasil menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia mampu di terjemahkan menjadi karya mode kontemporer yang memiliki daya saing di panggung internasional. Koleksi ini tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keberagaman, kolaborasi, dan identitas budaya yang di rangkai dalam setiap detail busana.