Penanggalan Jawa – Sistem kalender tradisional yang hingga kini masih di gunakan oleh masyarakat Jawa sebagai pedoman dalam memahami waktu, karakter manusia, serta kecenderungan peristiwa kehidupan. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda hari, tetapi juga mengandung nilai filosofis dan simbolik yang di wariskan secara turun-temurun. Salah satu kombinasi hari yang memiliki makna khusus adalah Sabtu Kliwon.

Pada Sabtu, 3 Januari 2026, penanggalan Jawa mencatat pertemuan hari Sabtu dengan pasaran Kliwon. Hari tersebut juga bertepatan dengan tanggal 14 Rejeb 1959 dalam kalender Jawa, berada pada Tahun Dal, Windu Sancaya, serta masuk dalam Wuku Kuruwelut. Kombinasi unsur-unsur ini di yakini memberikan pengaruh tertentu terhadap watak individu maupun penilaian baik dan buruk suatu hari untuk aktivitas tertentu.

Karakter Weton Sabtu Kliwon dan Nilai Neptu

Dalam tradisi Jawa, weton merupakan gabungan hari dan pasaran kelahiran seseorang. Weton Sabtu Kliwon memiliki nilai neptu 17, hasil penjumlahan nilai hari Sabtu dan pasaran Kliwon. Neptu ini di anggap cukup besar dan mencerminkan karakter yang kuat.

Individu dengan weton Sabtu Kliwon umumnya di kenal memiliki kepribadian yang menonjol. Mereka cenderung menyukai penghargaan dan pengakuan atas apa yang di kerjakan. Sifat ini sering diartikan sebagai senang dipuji atau terlihat gemar menunjukkan pencapaian. Namun demikian, di balik kesan tersebut, mereka memiliki sikap suka mengalah dan tidak gemar memperpanjang konflik.

Cara berbicara pemilik weton Sabtu Kliwon sering terdengar tegas dan keras, tetapi hal tersebut tidak selalu mencerminkan sifat aslinya. Pada dasarnya, mereka di kenal sopan, ramah, dan memiliki tata krama yang baik dalam pergaulan. Selain itu, kecenderungan untuk menyukai perjalanan atau kegiatan wisata juga sering di temukan pada individu dengan weton ini, baik sebagai sarana hiburan maupun pencarian pengalaman hidup.

budaya

Kalender Jawa 2026 Lengkap Wuku & Ringkel + Pranoto Mongso

Pangarasan Lakuning Bumi dan Sifat Sosial

Pangarasan weton Sabtu Kliwon adalah Lakuning Bumi. Filosofi Lakuning Bumi menggambarkan sifat bumi yang menjadi tempat berpijak, memberi kehidupan, dan menopang makhluk hidup. Oleh karena itu, pemilik weton ini di yakini memiliki sifat pemurah, suka berbagi, serta memiliki naluri untuk melindungi orang lain.

Dalam kehidupan sosial, sifat Lakuning Bumi tercermin pada kesediaan membantu sesama tanpa banyak perhitungan. Individu dengan pangarasan ini sering menjadi tempat bergantung bagi keluarga atau lingkungan sekitarnya. Nilai ini sejalan dengan konsep kearifan lokal Jawa yang menjunjung tinggi sikap empati, gotong royong, dan kepedulian sosial sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Pancasuda Tunggak Semi dan Kelangsungan Rezeki

Pancasuda yang menaungi weton Sabtu Kliwon adalah Tunggak Semi. Makna Tunggak Semi di ibaratkan seperti batang pohon yang telah di tebang, namun masih mampu menumbuhkan tunas baru. Filosofi ini melambangkan keberlanjutan dan ketahanan dalam hal rezeki.

Pemilik weton Sabtu Kliwon di yakini memiliki aliran rezeki yang relatif stabil. Meskipun mengalami kesulitan atau kegagalan dalam pekerjaan dan usaha, biasanya akan muncul peluang baru yang menggantikan. Konsep ini menegaskan bahwa rezeki tidak mudah terputus, selama tetap disertai usaha dan ketekunan. Dalam konteks kajian budaya, Tunggak Semi mencerminkan optimisme dan daya tahan manusia dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Wuku Kuruwelut dan Pengaruh Wataknya

Wuku Kuruwelut di lambangkan oleh Bathara Wisnu dan identik dengan sifat kewaspadaan serta kesungguhan dalam bekerja. Individu yang berada dalam pengaruh wuku ini di gambarkan sebagai pribadi yang tekun, bertanggung jawab, dan memiliki semangat juang yang tinggi.

Namun demikian, terdapat sisi lain yang perlu di perhatikan. Watak dermawan yang di miliki terkadang kurang di sertai keikhlasan sepenuhnya. Selain itu, kecenderungan untuk menonjolkan keberhasilan atau kekayaan juga dapat muncul. Wuku Kuruwelut dilambangkan dengan pohon parijatha yang menunjukkan keturunan dari orang baik dan intuisi yang tajam, tetapi juga menggambarkan kondisi batin yang sering di liputi kesedihan.

Secara simbolik, sifat berbicara yang di ibaratkan seperti air bah menggambarkan potensi ucapan yang dapat menggagalkan kesepakatan dalam musyawarah jika tidak dikendalikan dengan bijak. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi aspek penting bagi individu yang berada dalam naungan wuku ini.

Pantangan dan Penilaian Hari Sabtu Kliwon Wuku Kuruwelut

Dalam kepercayaan Jawa, Sabtu Kliwon yang jatuh pada Wuku Kuruwelut tergolong sebagai hari taliwangke, yaitu hari yang di anggap kurang baik untuk melaksanakan kegiatan besar seperti pernikahan atau hajatan penting. Pantangan ini di maknai sebagai bentuk kehati-hatian agar manusia selaras dengan siklus waktu dan alam.

Meskipun demikian, hari ini tidak sepenuhnya di pandang buruk. Sabtu Kliwon Wuku Kuruwelut justru dianggap baik untuk kegiatan tertentu, seperti memasang perangkap, membuat lubang untuk berburu, serta membuat alat pendayung atau welah. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian hari dalam penanggalan Jawa bersifat kontekstual dan bergantung pada jenis aktivitas yang di lakukan.

Kesimpulan

Sabtu Kliwon Wuku Kuruwelut dalam penanggalan Jawa memiliki makna yang kompleks dan kaya nilai filosofis. Kombinasi weton, pangarasan, pancasuda, dan wuku mencerminkan karakter individu, potensi rezeki, serta panduan waktu dalam kehidupan. Penanggalan Jawa tidak semata-mata berfungsi sebagai sistem perhitungan hari, melainkan sebagai warisan kearifan lokal yang mengajarkan keseimbangan, kehati-hatian, dan keselarasan hidup dengan alam serta lingkungan sosial.