Tebing Ngarai Sianok di Sumatera Barat kembali mengalami bencana longsor dengan skala yang cukup besar. Peristiwa ini terjadi di Guguak Tinggi, Nagari Ampek Koto, Kabupaten Agam. Longsoran tebing mencapai ketinggian sekitar 120 meter dan memiliki lebar kurang lebih 15 meter. Kejadian tersebut berlangsung setelah hujan deras mengguyur wilayah itu dalam waktu lama sehingga memengaruhi kestabilan tanah pada lereng ngarai.
Ngarai Sianok dikenal sebagai kawasan yang memiliki struktur tebing curam dan berada di daerah perbukitan. Kondisi geografis seperti ini memang rentan terhadap pergerakan tanah, terutama ketika intensitas curah hujan meningkat. Air hujan yang meresap ke dalam lapisan tanah dapat menyebabkan bobot tanah bertambah dan daya ikatnya melemah. Akibatnya, sebagian tebing yang sebelumnya kokoh tidak mampu lagi menahan beban dan akhirnya runtuh menjadi longsor.
Menurut keterangan Kepala Desa Guguak Tinggi, Dasman, hujan deras dengan durasi panjang merupakan faktor pemicu utama. Puncak longsor terjadi pada hari Kamis, 1 Januari 2026. Walaupun longsor tersebut cukup mengkhawatirkan, bencana ini tidak menimbulkan korban jiwa. Hal itu terjadi karena titik longsor berada relatif jauh dari pemukiman penduduk. Pernyataan ini memberikan sedikit kelegaan bagi masyarakat sekitar yang sempat cemas akibat peristiwa tersebut.
Lokasi Longsor Jauh dari Pemukiman Warga
Bencana longsor di Tebing Ngarai Sianok terjadi di sudut ngarai yang oleh warga setempat di namakan Ngarai Kaluang. Kawasan ini berada sekitar 1,5 kilometer dari hunian penduduk. Jarak tersebut membuat dampak langsung terhadap keselamatan warga dapat di minimalkan. Masyarakat yang tinggal di Desa Guguak Tinggi umumnya bekerja sebagai petani dan pedagang, sehingga aktivitas mereka banyak di lakukan di area yang cukup dekat dengan alam terbuka.
Walaupun lokasi longsor tergolong aman dari rumah warga, beberapa lahan persawahan ikut terdampak. Longsoran material tanah menyebabkan bagian tepi sawah terkikis dan mengalami kerusakan. Namun, kerugian tersebut masih dalam kategori ringan hingga sedang. Untuk mengantisipasi keadaan yang lebih buruk, pemerintah desa segera melaporkan kejadian itu kepada BPBD Kabupaten Agam agar mendapat penanganan lebih lanjut.
Pemerintah desa juga menyatakan bahwa tidak ada warga yang di evakuasi setelah kejadian. Pergerakan tanah yang terjadi masih tergolong jauh dari kawasan hunian. Meski demikian, aparat desa tetap mengingatkan agar masyarakat tidak mendekati bibir ngarai. Imbauan ini penting karena kondisi tanah pascalongsor biasanya masih labil dan berpotensi menimbulkan longsor susulan apabila hujan kembali turun.

Kondisi Ngarai Sianok Guguak Tinggi, Ampek Koto, Agam, yang mengalami longsor pascabencana hidrometeorologi Sumatera Barat.
Koordinasi Mitigasi Bencana Bersama BPBD
Setelah peristiwa longsor di Tebing Ngarai Sianok, pemerintah Desa Guguak Tinggi langsung menjalin koordinasi dengan pihak terkait. Langkah ini di lakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana berbasis wilayah. Aparat desa tidak hanya berkomunikasi dengan BPBD Agam, tetapi juga dengan BPBD Kota Bukittinggi karena aliran sungai yang melewati Ngarai Sianok berada dalam dua wilayah administratif.
Peristiwa longsor di Ngarai Sianok bukan pertama kali terjadi. Menurut keterangan perangkat desa, kejadian serupa sudah beberapa kali berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, masyarakat telah terbiasa untuk waspada ketika hujan deras melanda kawasan tersebut. Koordinasi dengan instansi penanggulangan bencana di harapkan mampu memberikan solusi jangka panjang agar kerawanan longsor dapat dikurangi.
Aparat desa juga mengarahkan warga yang beraktivitas di sekitar aliran sungai untuk segera menjauh apabila terdengar suara gemuruh atau terlihat tanda-tanda tebing runtuh. Imbauan ini sangat penting mengingat longsor besar sering kali terjadi secara tiba-tiba. Dengan adanya kewaspadaan kolektif, risiko terhadap keselamatan jiwa dapat di cegah sedini mungkin.
Rekaman Longsor Viral di Media Sosial
Salah satu kejadian longsor besar di Tebing Ngarai Sianok sempat terekam kamera warga dan menjadi viral di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut tampak material tanah berjatuhan dengan deras ke arah lembah sungai. Rekaman itu memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat luas. Banyak pihak menilai bahwa kejadian tersebut cukup mengerikan dan berpotensi membahayakan pengunjung wisata.
Pemerintah desa kemudian memberikan klarifikasi terkait rekaman yang menyebar tersebut. Pada saat video itu di ambil, terdapat lima orang warga yang sedang memperbaiki fasilitas sumber mata air. Bak penampungan air yang di alirkan ke rumah penduduk mengalami kerusakan, sehingga perlu segera di perbaiki. Beruntung, para pekerja tidak berada tepat di titik longsor sehingga mereka selamat dari bahaya.
Selain masalah longsor, desa setempat juga tengah mengalami krisis air bersih. Kerusakan sumber mata air membuat pasokan air ke rumah warga menjadi terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan kerusakan tanah, tetapi juga dapat memengaruhi kebutuhan dasar masyarakat. Oleh karena itu, kejadian ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Dampak Longsor terhadap Infrastruktur dan Lingkungan
Bencana alam yang melanda Ngarai Sianok tidak hanya berupa longsor tebing, tetapi juga banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025. Sejak peristiwa tersebut, terjadi peningkatan debit air dari daerah hulu. Aliran sungai yang makin besar menyebabkan kerusakan fasilitas jalan di sekitar lembah. Kondisi ini membuat akses menuju sudut-sudut Ngarai Sianok menjadi terganggu.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai melaporkan adanya kerusakan pada beberapa infrastruktur publik. Salah satu bangunan mushala yang biasa di gunakan oleh wisatawan juga roboh akibat derasnya arus air. Fasilitas jalan yang rusak membuat kegiatan wisata dan perekonomian menjadi terhambat. Lingkungan di sepanjang sungai terlihat mengalami pengikisan sehingga memerlukan penataan ulang.
Peristiwa longsor di Tebing Ngarai Sianok menjadi bukti bahwa kawasan perbukitan dengan curah hujan tinggi memerlukan perhatian khusus. Penataan lereng, perbaikan drainase, serta kajian geologi secara berkala sangat penting di lakukan. Apabila tidak ditangani dengan baik, longsor dan banjir susulan dapat menimbulkan dampak yang lebih luas bagi lingkungan maupun masyarakat.
Penurunan Aktivitas Pariwisata Pascabencana
Ngarai Sianok selama ini menjadi destinasi wisata andalan di Sumatera Barat. Banyak warga sekitar membuka usaha yang berkaitan langsung dengan kunjungan wisatawan, seperti penyewaan pelampung, rental mobil offroad, hingga jasa wisata petualangan. Namun, sejak terjadinya banjir bandang dan longsor besar, jumlah kunjungan wisatawan mengalami penurunan signifikan.
Rasa takut yang muncul di kalangan wisatawan membuat aktivitas ekonomi warga ikut menurun. Para pelaku usaha lokal belum dapat beroperasi maksimal karena minimnya permintaan. Fasilitas umum yang rusak juga semakin memperburuk keadaan. Situasi ini memerlukan langkah pemulihan dari pemerintah daerah agar kepercayaan wisatawan dapat kembali seperti sebelumnya.
Bencana longsor di Tebing Ngarai Sianok menjadi pelajaran penting mengenai hubungan antara bencana alam dan perekonomian masyarakat. Mitigasi bencana harus berjalan beriringan dengan pemulihan sektor wisata. Dengan kajian yang tepat dan perbaikan fasilitas publik, diharapkan kawasan Ngarai Sianok dapat kembali aman dikunjungi sehingga aktivitas sosial ekonomi warga dapat pulih sepenuhnya.