Sejarah Klenteng Di Indonesia – Keberadaan klenteng-klenteng tua di Indonesia tidak hanya mencerminkan praktik keagamaan masyarakat Tionghoa. Tetapi juga menjadi bukti historis dari proses panjang interaksi budaya antara pendatang Tionghoa dan masyarakat lokal Nusantara. Sejak abad ke-12 Masehi, para pedagang, pelaut, dan tokoh spiritual Tionghoa telah menjalin hubungan ekonomi, sosial, dan budaya dengan wilayah kepulauan Indonesia. Salah satu jejak paling nyata dari proses tersebut adalah berdirinya klenteng-klenteng kuno yang hingga kini masih berfungsi sebagai pusat ibadah dan kebudayaan.
Kim Hin Kiong di Gresik sebagai Simbol Awal Kedatangan Tionghoa
Klenteng Kim Hin Kiong merupakan salah satu klenteng tertua di Indonesia yang di bangun pada tahun 1153 Masehi. Klenteng ini di dirikan oleh para pedagang Tionghoa yang singgah di pelabuhan Gresik, sebuah kota yang sejak lama di kenal sebagai pusat perdagangan internasional. Keberadaan klenteng ini menunjukkan bahwa hubungan antara masyarakat Tionghoa dan Nusantara telah terjalin jauh sebelum masa kolonial. Fungsi klenteng tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pertemuan sosial bagi komunitas pedagang pada masa itu.
Hong Tiek Hian dan Jejak Sejarah Awal Majapahit
Klenteng Hong Tiek Hian di percaya berdiri pada tahun 1293 Masehi, bertepatan dengan masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Klenteng ini di yakini di bangun oleh pasukan Tartar yang datang ke Jawa dalam rangka ekspedisi militer. Keberadaannya menjadi penanda penting bahwa pengaruh budaya dan spiritual Tionghoa telah hadir dalam dinamika politik dan sosial Jawa Timur pada masa transisi kekuasaan tersebut.
Siu Hok Bio sebagai Pusat Spiritualitas Pecinan Semarang
Klenteng Siu Hok Bio di dirikan pada tahun 1416 Masehi dan menjadi salah satu pusat spiritual tertua bagi masyarakat Tionghoa di Semarang. Terletak di kawasan Pecinan, klenteng ini berperan penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keagamaan serta nilai-nilai budaya Tionghoa. Selain fungsi ritual, klenteng ini juga berkontribusi dalam pembentukan identitas sosial komunitas Tionghoa di wilayah pesisir utara Jawa.

Klenteng Kim Hin Kiong di Gresik, Jawa Timur, 2 Februari 2023. Di bangun pada tahun 1153 M oleh para pedagang Tionghoa yang singgah di Gresik.
Boen Tek Bio dan Identitas Tionghoa Benteng
Klenteng Boen Tek Bio yang berdiri pada tahun 1684 Masehi memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat Tionghoa Benteng. Klenteng ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pelestarian budaya dan tradisi lokal yang telah berakulturasi dengan budaya Betawi dan Sunda. Keberadaannya mencerminkan proses integrasi budaya yang berlangsung secara damai dan berkelanjutan.
Ban Hin Kiong sebagai Pusat Budaya di Indonesia Timur
Klenteng Ban Hin Kiong di bangun pada tahun 1819 Masehi dan di kenal sebagai klenteng tertua di Manado. Sehingga klenteng ini memiliki peran penting sebagai pusat perayaan Cap Go Meh di Sulawesi Utara. Sehingga keberadaannya menegaskan bahwa komunitas Tionghoa tidak hanya berkembang di wilayah barat Indonesia. Tetapi juga memiliki pengaruh signifikan di kawasan timur Nusantara.
Eng An Kiong dan Praktik Keagamaan Tridharma
Klenteng Eng An Kiong di dirikan pada tahun 1825 Masehi oleh Letnan Kwee Sam Hway. Klenteng ini menjadi representasi praktik keagamaan Tridharma yang memadukan ajaran Konghucu, Buddha, dan Taoisme. Sehingga model ibadah ini menunjukkan fleksibilitas dan adaptasi spiritual masyarakat Tionghoa dalam konteks sosial Indonesia yang multikultural.
Penutup
Klenteng-klenteng tua di berbagai wilayah Indonesia merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, religius, dan sosial yang tinggi. Keberadaannya tidak hanya menandai jejak awal migrasi dan interaksi masyarakat Tionghoa di Nusantara. Sehingga mencerminkan proses akulturasi budaya yang membentuk identitas kebangsaan Indonesia hingga saat ini.