Gadis Kretek – Hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan tidak hanya terjalin melalui kerja sama ekonomi dan politik, tetapi juga melalui pertukaran budaya. Salah satu upaya memperkuat hubungan tersebut di lakukan melalui peluncuran novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala dalam versi terjemahan bahasa Korea. Kehadiran karya sastra Indonesia di Korea Selatan menjadi langkah penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, menyampaikan bahwa penerbitan novel Gadis Kretek dalam bahasa Korea memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penerjemahan karya sastra. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk memperluas kerja sama budaya antara kedua negara melalui media literatur.
Peran Sastra dalam Diplomasi Budaya
Dalam acara peluncuran yang berlangsung di Seoul, Dubes Cecep Herawan menekankan bahwa selama ini hubungan Indonesia dan Korea Selatan telah berkembang dengan sangat baik di berbagai bidang, khususnya ekonomi dan diplomasi. Namun, sastra memiliki peran unik dalam memperdalam pemahaman masyarakat kedua negara terhadap nilai budaya, sejarah, serta kehidupan sosial masing-masing.
Melalui kisah yang di angkat dalam novel Gadis Kretek, pembaca Korea dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Indonesia. Terutama yang berkaitan dengan tradisi, keluarga, dan dinamika industri kretek yang menjadi bagian dari sejarah sosial di Indonesia. Dengan demikian, karya sastra mampu menjadi jembatan yang menghubungkan dua budaya berbeda.
Program Southeast Asian Literature Series
Peluncuran novel ini di selenggarakan oleh HansaeYes24 Foundation sebagai bagian dari program Southeast Asian Literature Series. Program tersebut bertujuan memperkenalkan berbagai karya sastra dari negara-negara Asia Tenggara kepada pembaca di Korea Selatan.
Melalui inisiatif ini, sejumlah karya sastra pilihan dari kawasan Asia Tenggara di terjemahkan ke dalam bahasa Korea agar dapat di nikmati oleh masyarakat luas. Upaya ini dinilai penting karena literatur dapat memberikan perspektif baru mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat di berbagai negara.
Duta Besar Indonesia juga menyampaikan apresiasi kepada HansaeYes24 Foundation. Atas komitmen mereka dalam memperkenalkan karya sastra dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kepada publik Korea. Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat memperkuat hubungan budaya sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas antara masyarakat kedua negara.

Dian Sastrowardoyo sebagai Jeng Yah dalam film serial “Gadis Kretek”..
Pentingnya Pertukaran Budaya Melalui Literatur
Chairperson HansaeYes24 Foundation, Baek Soomi, menilai bahwa karya sastra dari Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk memperkaya wawasan budaya masyarakat Korea. Ia menjelaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan budaya populer Korea atau K-Culture yang di kenal secara global. Korea juga perlu membuka diri terhadap karya budaya dari negara lain.
Pertukaran budaya melalui literatur di nilai mampu memperluas sudut pandang pembaca sekaligus meningkatkan pemahaman terhadap keberagaman budaya dunia. Dengan membaca karya sastra dari negara lain, masyarakat dapat mengenal berbagai nilai, tradisi, dan perspektif yang berbeda.
Baek Soomi berharap penerbitan Gadis Kretek dalam bahasa Korea dapat meningkatkan minat masyarakat Korea terhadap sastra Asia Tenggara. Serta memperkuat hubungan budaya antara kedua kawasan.
Karya Sastra Indonesia yang Mendunia
Gadis Kretek merupakan karya sastra Indonesia kedua yang di terbitkan oleh HansaeYes24 Foundation setelah novel klasik Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Karya Hamka yang di terjemahkan dan di terbitkan pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya perhatian terhadap karya sastra Indonesia di tingkat internasional.
Penulis novel Gadis Kretek, Ratih Kumala, mengungkapkan bahwa inspirasi utama cerita tersebut berasal dari pengalaman keluarga. Khususnya kisah sang kakek yang pernah menjadi pengusaha kretek di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Latar belakang tersebut memberikan sentuhan autentik pada cerita yang menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa tertentu.
Popularitas novel ini semakin meningkat setelah di adaptasi menjadi serial Netflix pada tahun 2023 dengan judul yang sama. Adaptasi tersebut memperkenalkan cerita Gadis Kretek kepada penonton global melalui medium visual.
Melalui serial tersebut, penonton dari berbagai negara dapat mengenal lebih jauh tentang budaya Indonesia. Termasuk tradisi keluarga, kisah cinta, serta dinamika industri kretek yang memiliki peran penting dalam sejarah sosial Indonesia.
Promosi Budaya Indonesia di Korea Selatan
Selain memperkenalkan karya sastra, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul juga memanfaatkan acara peluncuran ini untuk mempromosikan produk budaya Indonesia lainnya. Salah satu yang diperkenalkan adalah kopi khas Indonesia dari daerah Gayo yang di sajikan dalam bentuk drip bag coffee.
Inisiatif ini memberikan kesempatan bagi masyarakat Korea untuk tidak hanya mengenal Indonesia melalui karya sastra, tetapi juga melalui pengalaman menikmati cita rasa kopi Nusantara. Kombinasi antara literatur dan kuliner tersebut menjadi cara efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada publik internasional.
Dengan adanya kegiatan seperti peluncuran novel Gadis Kretek di Korea Selatan, di harapkan hubungan budaya antara Indonesia dan Korea semakin erat. Sastra, sebagai bagian penting dari identitas budaya. Dapat menjadi sarana strategis untuk memperkuat diplomasi budaya sekaligus memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada dunia.