Budaya Bali – Kehadiran pebalap MotoGP sering kali identik dengan kecepatan, persaingan, dan atmosfer balap yang penuh adrenalin. Namun, pengalaman berbeda di rasakan oleh dua pebalap tim pabrikan Honda HRC Castrol, Joan Mir dan Luca Marini, ketika mereka berkunjung ke Bali pada 2–3 Maret 2026. Kunjungan ini merupakan bagian dari undangan PT Astra Honda Motor (AHM) dalam sebuah kegiatan bertema “One Heart, One Dream, One Glory” yang bertujuan mempererat hubungan antara dunia balap internasional dengan penggemar di Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, kedua pebalap tidak hanya menyapa para penggemar, tetapi juga di ajak untuk mengenal secara langsung kekayaan budaya Bali. Berbagai aktivitas budaya di perkenalkan kepada mereka sebagai bentuk pengalaman yang memperlihatkan sisi lain Indonesia di luar dunia motorsport.

Pengenalan Budaya Bali kepada Pebalap MotoGP

Selama berada di Pulau Dewata, Joan Mir dan Luca Marini mengikuti sejumlah kegiatan yang memperkenalkan tradisi lokal Bali. Mereka belajar beberapa ungkapan sederhana dalam bahasa Bali, mencoba merangkai Canang Sari, membuat ketupat, hingga memainkan alat musik tradisional gamelan.

Suasana acara berlangsung hangat dan penuh interaksi. Kedua pebalap tersebut mencoba menyapa audiens menggunakan bahasa Bali. Ketika mendapat pertanyaan “Puna bigatra?” yang berarti “Apa kabar?”, mereka menjawab dengan “Bici, bici” yang berarti “Baik, baik”. Momen tersebut di sambut dengan antusias oleh para tamu undangan yang hadir.

Meski pada awalnya terlihat sedikit canggung saat mengikuti aktivitas budaya tersebut, sikap terbuka dan rasa ingin tahu dari kedua pebalap membuat suasana semakin meriah. Para peserta acara pun memberikan sambutan hangat berupa tawa dan tepuk tangan ketika Mir dan Marini mencoba berbagai kegiatan yang baru bagi mereka.

Tantangan Baru: Bermain Gamelan

Salah satu aktivitas yang paling menarik perhatian adalah ketika kedua pebalap mencoba memainkan alat musik tradisional gamelan. Bagi sebagian orang, gamelan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Joan Mir, pengalaman tersebut justru menghadirkan tantangan tersendiri.

Pebalap asal Spanyol yang pernah meraih gelar juara dunia MotoGP tahun 2020 itu mengungkapkan bahwa memainkan gamelan ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Ia bahkan berseloroh bahwa balapan di lintasan justru terasa lebih mudah di bandingkan mencoba memainkan alat musik tradisional tersebut.

Menurut Mir, gamelan merupakan aktivitas yang paling sulit di pelajari di antara semua kegiatan yang ia coba selama acara berlangsung. Meskipun demikian, pengalaman tersebut justru menimbulkan rasa penasaran dalam dirinya. Ia bahkan mengatakan bahwa suatu hari ia ingin kembali ke Bali untuk mencoba mempelajari gamelan dengan lebih serius.

Budaya Bali

Duo pebalap MotoGP Tim Honda HRC Castrol berbusana adat budaya Bali.

Luca Marini Menemukan Ketenangan dalam Canang Sari

Berbeda dengan Joan Mir yang merasa tertantang oleh gamelan, Luca Marini justru menikmati proses merangkai Canang Sari, yaitu sesajen khas Bali yang biasanya berisi bunga dan daun yang di susun di atas janur.

Bagi Marini, aktivitas tersebut memberikan pengalaman yang menenangkan. Ia menggambarkan proses menyusun bunga dalam Canang Sari seperti sebuah bentuk meditasi yang membutuhkan ketenangan dan ketelitian.

Pebalap asal Italia tersebut juga mengibaratkan proses tersebut seperti melukis. Dalam pandangannya, pemilihan warna bunga serta cara menyusunnya menjadi faktor penting agar hasilnya terlihat indah. Proses tersebut membuatnya merasa rileks dan fokus pada detail.

Makna Budaya dalam Pengalaman Internasional

Kunjungan Joan Mir dan Luca Marini ke Bali menunjukkan bagaimana olahraga internasional dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada dunia. Melalui kegiatan sederhana seperti belajar bahasa daerah, memainkan gamelan, atau merangkai sesajen tradisional. Para pebalap dapat memahami nilai budaya yang hidup di masyarakat.

Pengalaman ini juga memperlihatkan bahwa budaya Bali tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga mampu memberikan kesan mendalam bagi tokoh olahraga dunia. Kesabaran, ketelitian, serta filosofi yang terkandung dalam tradisi Bali menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang mempelajarinya.

Melalui kegiatan yang menggabungkan olahraga dan budaya ini, hubungan antara penggemar MotoGP di Indonesia dengan para pebalap dunia semakin terasa dekat. Selain memperkuat ikatan dengan komunitas penggemar. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia internasional.