Gempa Susulan Setelah Gempa Besar – merupakan bagian dari proses alami Bumi ketika kerak batuan berusaha mencapai kondisi stabil setelah pelepasan energi dalam jumlah besar. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa berkekuatan besar secara mekanis akan memunculkan rangkaian getaran susulan.

Dalam ilmu kegempaan, rangkaian gempa dapat terbagi menjadi tiga kelompok. Ketiganya meliputi gempa awal atau foreshock, gempa utama atau mainshock, serta gempa susulan atau aftershock. Namun, penentuan kategori tersebut tidak selalu dapat dilakukan sesaat setelah gempa terjadi.

Gempa utama merupakan peristiwa dengan pelepasan energi terbesar dan memiliki magnitudo paling tinggi dalam suatu rangkaian. Sementara itu, gempa susulan muncul setelah kejadian utama. Lokasinya biasanya masih berada dalam cakupan area robekan patahan atau rupture zone.

Daryono mengatakan gempa bermagnitudo kuat secara mekanis akan di sertai gempa susulan. Fenomena tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses alamiah yang berlangsung di dalam Bumi.

Mengapa Gempa Susulan Terjadi Setelah Gempa Utama?

Secara teknis, gempa utama bermula ketika energi potensial terus terakumulasi pada retakan batuan atau patahan. Tekanan yang semakin besar kemudian melampaui batas elastisitas batuan.

Kondisi tersebut membuat batuan mengalami patahan dan pergeseran secara tiba-tiba. Pergerakan itulah yang kemudian melepaskan energi dalam bentuk gelombang seismik dan menimbulkan getaran gempa.

Namun, pelepasan energi saat gempa utama tidak membuat seluruh bagian patahan langsung kembali stabil. Terlebih lagi, gempa besar dapat menyebabkan bidang patahan mengalami robekan hingga mencapai jarak ratusan kilometer.

Menurut Daryono, proses tersebut meninggalkan bidang rekahan dengan sejumlah titik yang masih menyimpan tegangan sisa atau residual stress.

Setelah gempa utama melepaskan energi dalam jumlah besar, struktur batuan di sekitar patahan belum tentu berada pada posisi seimbang. Sebagian tegangan justru berpindah menuju area batuan lain di sekitarnya.

Akibatnya, kerak Bumi membutuhkan proses penyesuaian. Rangkaian gempa susulan menjadi salah satu mekanisme fisika yang berlangsung selama proses tersebut.

Melalui gempa susulan, batuan di sekitar bidang patahan secara perlahan melakukan penyesuaian terhadap perubahan tekanan. Proses itu sekaligus membantu mengurai tegangan yang masih tersisa hingga tercapai keseimbangan baru.

Dengan demikian, gempa susulan dapat di pahami sebagai bentuk penyesuaian mekanis dalam skala lebih kecil setelah perubahan besar akibat gempa utama.

Frekuensi Gempa Susulan Berangsur Menurun

Daryono menjelaskan bahwa pola kemunculan gempa susulan setelah gempa utama dapat di terangkan melalui Hukum Omori-Utsu.

Prinsip tersebut menjelaskan bahwa frekuensi gempa susulan biasanya berada pada tingkat tertinggi sesaat setelah gempa utama. Setelah itu, jumlah kejadiannya secara bertahap berkurang seiring berjalannya waktu.

Artinya, semakin jauh rentang waktu dari gempa utama, peluang munculnya gempa susulan secara umum semakin berkurang.

Meskipun demikian, penurunan frekuensi tidak dapat diartikan bahwa setiap gempa susulan berikutnya pasti memiliki magnitudo lebih kecil. Gempa susulan berkekuatan cukup besar masih mungkin terjadi setelah jeda waktu tertentu.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena bangunan yang telah mengalami kerusakan akibat gempa utama menjadi lebih rentan. Getaran susulan yang cukup kuat berpotensi memperparah kerusakan pada struktur yang sebelumnya sudah melemah.

Oleh karena itu, masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu memperhatikan informasi resmi setelah gempa utama terjadi.

Ilustrasi gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama akibat pergerakan patahan Bumi

Tim SAR melakukan evakuasi korban yang tertimbun di Maumere.

Redistribusi Tegangan di Sekitar Patahan

Fenomena gempa susulan juga dapat di pahami melalui konsep redistribusi tegangan atau Coulomb stress change. Ketika batuan mengalami patahan, tekanan pada satu bagian akan berkurang karena energi telah di lepaskan.

Namun, sebagian tekanan tersebut dapat berpindah menuju bagian batuan lain yang berada di sekitarnya. Perubahan distribusi tegangan kemudian memicu penyesuaian lanjutan pada kerak Bumi.

Gempa susulan menjadi salah satu tanda bahwa proses pelepasan dan penyesuaian energi tersebut masih berlangsung.

Daryono menjelaskan bahwa rangkaian gempa kecil membantu kerak Bumi melepaskan tegangan sisa secara bertahap. Dengan mekanisme tersebut, energi yang tersisa tidak seluruhnya tertahan pada struktur batuan.

Karena itu, keberadaan gempa susulan memiliki penjelasan ilmiah dalam mekanisme dinamika kerak Bumi setelah terjadinya gempa utama.

Status Gempa Baru Dapat Dipastikan Setelah Peristiwa Berlalu

Selain menjelaskan proses terbentuknya gempa susulan, Daryono menyoroti penentuan status suatu gempa. Menurutnya, klasifikasi sebagai foreshock, mainshock, atau aftershock bersifat retrospektif.

Dengan kata lain, para ahli baru dapat memastikan status gempa setelah melihat perkembangan rangkaian kegempaan berikutnya.

Sebagai contoh, sebuah gempa bermagnitudo 5,5 awalnya dapat di anggap sebagai gempa utama. Namun, statusnya bisa berubah apabila beberapa hari kemudian terjadi gempa bermagnitudo 7,2 pada wilayah patahan yang sama. Dalam kondisi tersebut, gempa M 5,5 dapat di kategorikan sebagai gempa awal.

Para seismolog juga menggunakan sejumlah parameter untuk memastikan apakah sebuah kejadian termasuk gempa susulan.

Pertama, lokasi gempa harus berada dalam cakupan zona patahan yang berkaitan dengan gempa utama. Kedua, waktu kemunculannya perlu sesuai dengan pola peluruhan aktivitas gempa berdasarkan Hukum Omori-Utsu.

Selain itu, para ahli dapat mempertimbangkan Hukum Bath. Prinsip ini menyebutkan bahwa magnitudo gempa susulan terbesar secara rata-rata berada sekitar 1,2 unit di bawah magnitudo gempa utama.

Melalui analisis lokasi, waktu, dan magnitudo tersebut, para seismolog dapat memahami hubungan antara satu gempa dengan kejadian lainnya. Kajian itu juga membantu menjelaskan bagaimana kerak Bumi melakukan penyesuaian setelah pelepasan energi besar pada suatu patahan.