Pesawat ATR 42-500 – Kecelakaan pesawat kembali mengguncang dunia penerbangan nasional. Sebuah pesawat jenis ATR 42-500 yang melayani rute Yogyakarta–Makassar di laporkan mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Peristiwa ini menimbulkan keprihatinan mendalam, terutama bagi keluarga penumpang dan awak pesawat yang hingga kini masih menunggu kepastian kondisi orang-orang terkasih.
Salah satu penumpang yang berada dalam penerbangan tersebut adalah Yoga Nauval. Seorang operator foto udara yang tergabung dalam tim pengawasan udara Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Hingga proses pencarian berlangsung, keberadaan dan kondisi Yoga belum dapat di pastikan. Namun keluarga tetap memanjatkan doa dan harapan akan adanya keajaiban.
Doa dan Harapan Keluarga Korban
Keluarga Yoga Nauval menggelar doa bersama di kediaman orang tuanya di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kegiatan ini di hadiri oleh kerabat, tetangga, dan tokoh masyarakat sebagai bentuk ikhtiar batin di tengah ketidakpastian informasi. Pihak keluarga menyampaikan bahwa hingga saat itu belum ada kabar resmi mengenai keberadaan Yoga. Namun harapan untuk menemukan korban dalam kondisi terbaik tetap di jaga.
Selain Yoga, dua pegawai PSDKP lainnya juga tercatat sebagai penumpang dalam pesawat tersebut. Ketiganya tengah menjalankan tugas dalam penerbangan menuju Makassar. Di samping penumpang, pesawat juga di awaki oleh tujuh kru yang seluruhnya masih dalam proses pencarian dan identifikasi.

PESAWAT JATUH DI MAROS – Tim SAR gabungan melakukan evakuasi terhadap puing-puing pesawat ATR 42-500 dari kawasan lereng pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Proses Pencarian oleh Tim SAR Gabungan
Sejak laporan hilangnya kontak pesawat di terima, tim SAR gabungan langsung di kerahkan untuk melakukan pencarian. Upaya ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan dan instansi terkait. Pada hari kedua pencarian, tim berhasil menemukan sejumlah serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, termasuk bagian badan, pintu, dan ekor pesawat.
Selain serpihan, satu korban berjenis kelamin laki-laki juga di temukan di area jurang yang berada di sisi utara puncak gunung. Meski demikian, identitas korban tersebut belum dapat di pastikan karena kondisi medan yang sulit serta cuaca yang tidak bersahabat. Proses evakuasi membutuhkan waktu dan tenaga ekstra mengingat lokasi penemuan berada di wilayah dengan akses terbatas.
Peran Pemerintah dalam Penanganan Insiden
Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan menyampaikan rasa empati dan belasungkawa kepada keluarga korban. Menteri Perhubungan secara langsung memantau proses pencarian di Makassar dan memastikan bahwa seluruh sumber daya yang tersedia telah di kerahkan secara maksimal. Koordinasi lintas lembaga di lakukan untuk mempercepat pencarian serta memastikan keluarga korban mendapatkan pendampingan dan informasi yang di butuhkan.
Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menangani insiden penerbangan secara serius, baik dari sisi kemanusiaan maupun aspek keselamatan transportasi udara.
Dugaan Awal Penyebab Kecelakaan
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan dugaan awal bahwa pesawat kemungkinan menghantam lereng Gunung Bulusaraung sebelum akhirnya mengalami kecelakaan. Berdasarkan data navigasi, pesawat di laporkan berada pada ketinggian yang relatif dekat dengan kontur pegunungan di lokasi kejadian.
Meski demikian, pihak KNKT menegaskan bahwa penyebab pasti kecelakaan belum dapat di simpulkan. Investigasi menyeluruh masih menunggu di temukannya kotak hitam pesawat yang menjadi sumber utama data penerbangan. Faktor cuaca dan kondisi teknis pesawat masih menjadi bagian dari analisis lebih lanjut.
Identifikasi Korban dan Kesaksian Pendaki
Untuk mendukung proses identifikasi korban, tim Disaster Victim Identification (DVI) telah mengambil sampel DNA dari keluarga korban. Data antemortem ini akan di cocokkan dengan temuan di lapangan guna memastikan identitas korban secara ilmiah dan akurat.
Di sisi lain, dua pendaki yang berada di kawasan Gunung Bulusaraung mengaku menyaksikan langsung detik-detik pesawat terbang rendah sebelum menabrak lereng gunung. Kesaksian ini menjadi informasi tambahan yang dapat membantu rekonstruksi awal peristiwa, meskipun tetap memerlukan verifikasi teknis lebih lanjut dari pihak berwenang.