Mondo Nusantara – Musik selalu memiliki kemampuan untuk menyatukan berbagai perbedaan. Melalui nada dan irama, masyarakat dari latar belakang yang berbeda dapat saling memahami tanpa harus berbicara dalam bahasa yang sama. Oleh karena itu, KBRI Roma menghadirkan konser bertajuk “Mondo Nusantara” sebagai medium diplomasi budaya yang hangat dan membumi.

Konser yang berlangsung di Wisma Duta KBRI Roma pada 12 Juni tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan. Lebih dari itu, acara ini mengajak masyarakat Italia mengenal Indonesia melalui kekayaan seni, tradisi, dan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Nusantara.

KBRI Roma mempercayakan panggung utama kepada duo internasional MegaMauro. Grup tersebut mempertemukan Mega Sihombing dari Indonesia dengan Mauro Goia dari Italia. Dengan demikian, kolaborasi itu menciptakan ruang dialog budaya yang kreatif sekaligus menyenangkan.

Kolaborasi Musik yang Menembus Batas Negara

MegaMauro mengusung konsep Artistry in Real Time dalam setiap penampilannya. Konsep tersebut memungkinkan para musisi berinteraksi secara spontan di atas panggung. Selain itu, pendekatan ini memperlihatkan kemampuan mereka dalam menyatukan karakter musik yang berbeda.

Keduanya mengangkat inspirasi dari budaya Danau Toba, Sumatra Utara, lalu memadukannya dengan nuansa musik klasik Italia. Di sisi lain, mereka tetap menjaga identitas asli dari masing-masing tradisi sehingga tidak ada unsur budaya yang kehilangan jati dirinya.

Nama “Mondo Nusantara” juga menyimpan pesan mendalam. Kata mondo berarti dunia dalam bahasa Italia. Karena itu, tajuk tersebut menjadi simbol perjumpaan dua bangsa sekaligus undangan bagi masyarakat Italia untuk menjelajahi kekayaan budaya Indonesia.

Lagu Daerah Nusantara Mencuri Perhatian

Pertunjukan dibuka dengan medley lagu-lagu daerah Indonesia yang penuh semangat. MegaMauro membawakan “Ampar-Ampar Pisang” dari Kalimantan serta “Yamko Rambe Yamko” dari Papua dengan aransemen yang segar.

Kemudian, mereka mengalihkan suasana menuju lagu klasik Italia “Funiculì Funiculà”. Perpindahan tersebut terasa begitu mulus. Bahkan, para tamu menikmati setiap perubahan irama dengan antusias.

Tepuk tangan terus mengiringi penampilan para musisi. Tak hanya itu, banyak tamu tampak ikut bernyanyi mengikuti lagu-lagu yang mereka kenal.

Angklung dan O Sole Mio Tampil Memukau

Salah satu momen paling berkesan hadir ketika Mauro Goia memainkan angklung. Alat musik bambu khas Indonesia itu telah memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2010.

Selanjutnya, Mauro memadukan bunyi angklung dengan lagu legendaris Italia “O Sole Mio”. Hasilnya menghadirkan pengalaman musikal yang unik. Terlebih lagi, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa instrumen tradisional Indonesia mampu beradaptasi dengan berbagai genre musik dunia.

Penampilan itu mendapat sambutan meriah dari para tamu undangan. Dengan kata lain, kreativitas menjadi kunci utama dalam menjaga relevansi budaya di tengah perkembangan zaman.

Mondo Nusantara

Duta Besar RI untuk Italia Junimart Girsang berduet dengan Mega Sihombing membawakan lagu Bubuy Bulan, Che Sara, dan My Way pada konser kolaboratif “Mondo Nusantara” di Wisma Duta, Roma, Italia, Jumat (12/6/2026).

Danau Toba Menjadi Sumber Inspirasi Utama

Konser Mondo Nusantara memberikan perhatian khusus pada budaya Batak dari kawasan Danau Toba. Mega Sihombing memainkan gondang sambil memperkenalkan kekayaan musik tradisional Sumatra Utara.

Sementara itu, Francesca Salandri turut memperkuat suasana melalui permainan seruling yang mengiringi repertoar Indonesia. Kehadirannya menjadi bukti bahwa budaya Nusantara mampu menarik minat musisi dari negara lain.

Lagu-lagu Batak seperti “Butet” dan “Horas” menggema sepanjang pertunjukan. Di samping itu, tarian tradisional turut memperkaya pengalaman para tamu yang hadir.

Adeline dan Abigail, dua anak Indonesia yang tumbuh di Italia, juga memperkenalkan ulos kepada para hadirin. Tak kalah penting, partisipasi generasi muda tersebut memperlihatkan peran mereka dalam menjaga identitas budaya di perantauan.

Diplomasi Budaya Pererat Hubungan Indonesia dan Italia

Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia, Junimart Girsang, ikut menyemarakkan suasana dengan berduet bersama Mega Sihombing. Mereka membawakan lagu “Bubuy Bulan”, “Che Sara”, dan “My Way”.

Pada saat yang sama, penampilan tersebut menghadirkan suasana yang lebih akrab antara para tamu undangan. Dubes Junimart juga menegaskan bahwa seni memiliki kekuatan besar dalam membangun kedekatan antarmasyarakat.

Indonesia dan Italia memang terpisah oleh jarak geografis yang jauh. Meskipun demikian, kedua negara memiliki kecintaan yang sama terhadap musik, tradisi, dan kreativitas.

Oleh sebab itu, kegiatan budaya seperti Mondo Nusantara dapat memperkuat rasa saling menghargai serta memperdalam pemahaman antarbangsa.

Kuliner Nusantara Lengkapi Pengalaman Budaya

Sekitar 80 tamu undangan menghadiri konser ini. Mereka berasal dari kalangan diplomatik, pelaku seni, media lokal, hingga masyarakat Italia.

Sebelum pertunjukan dimulai, para tamu menikmati berbagai hidangan khas Indonesia. Di antaranya, soto ayam, lontong dengan daging kambing, mi goreng, martabak telur, serta martabak manis.

Kuliner tersebut melengkapi pengalaman budaya yang utuh. Selain itu, cita rasa Nusantara memberi kesempatan bagi para tamu untuk mengenal Indonesia melalui kekayaan rempah-rempahnya.

Mondo Nusantara Tunjukkan Wajah Diplomasi Modern

Mondo Nusantara menghadirkan contoh nyata diplomasi budaya yang kreatif dan inklusif. KBRI Roma memanfaatkan seni sebagai jembatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional.

Pada akhirnya, konser ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik. Acara tersebut juga memperkuat persahabatan antara Indonesia dan Italia melalui pengalaman budaya yang berkesan.

Singkatnya, Mondo Nusantara membuktikan bahwa musik, tarian, busana, dan kuliner dapat menyatukan banyak perbedaan. Dengan demikian, seni tetap menjadi bahasa universal yang mampu menumbuhkan rasa saling mengenal, saling menghargai, dan saling memahami di antara berbagai bangsa.