Harga BBM – Perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menarik perhatian masyarakat Indonesia. Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 pada Juni 2026 memicu berbagai perbandingan, terutama dengan Malaysia yang sama-sama menerapkan kebijakan subsidi energi.
Yang membuat publik semakin penasaran bukan hanya soal selisih harga. Malaysia justru menyediakan BBM bersubsidi dengan kualitas lebih tinggi, yakni RON 95, tetapi menjualnya dengan harga lebih murah di bandingkan Pertalite yang memiliki nilai oktan lebih rendah.
Perbedaan ini memunculkan pertanyaan besar. Mengapa dua negara bertetangga yang sama-sama memiliki kebutuhan energi tinggi bisa menerapkan kebijakan harga BBM yang sangat berbeda?
Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Jadi Sorotan
PT Pertamina melakukan penyesuaian harga beberapa produk BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026. Kebijakan tersebut langsung menjadi perbincangan di berbagai lapisan masyarakat karena besaran kenaikannya cukup signifikan.
Pertamax yang sebelumnya di jual seharga Rp12.300 per liter kini mencapai Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 melonjak dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Di sisi lain, Pertamina tetap mempertahankan harga sejumlah produk lainnya. Pertalite, Biosolar, Pertamax Turbo, dan Dex Series tidak mengalami perubahan pada periode penyesuaian tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah dan badan usaha energi masih berupaya menjaga stabilitas harga pada beberapa jenis BBM yang banyak di gunakan masyarakat.
Mengenal Perbedaan RON pada Bahan Bakar
Saat memilih BBM, pemilik kendaraan sering menjumpai istilah Research Octane Number atau RON. Angka tersebut menunjukkan kemampuan bahan bakar menahan tekanan sebelum proses pembakaran terjadi di dalam mesin.
Semakin tinggi angka RON, semakin baik kualitas bahan bakar dalam mendukung performa mesin berkompresi tinggi. BBM dengan RON yang sesuai juga membantu menjaga efisiensi dan mengurangi risiko knocking.
Indonesia menyediakan beberapa pilihan BBM berdasarkan nilai oktannya. Pertalite memiliki RON 90 dan masuk kategori BBM bersubsidi. Pertamax menggunakan RON 92, sedangkan Pertamax Green 95 menawarkan RON 95 yang cocok untuk kendaraan dengan spesifikasi mesin tertentu.
Perbedaan kualitas inilah yang kemudian menjadi dasar masyarakat saat membandingkan harga BBM Indonesia dengan Malaysia.

Harga BBM
Malaysia Beri Subsidi untuk BBM RON 95
Malaysia menerapkan pendekatan berbeda dalam kebijakan subsidi energi. Pemerintah negeri jiran tersebut memberikan bantuan harga untuk BBM RON 95 melalui program Budi Madani RON95 atau BUDI95.
Melalui skema tersebut, masyarakat Malaysia dapat membeli bensin RON 95 dengan harga 1,99 ringgit per liter. Jika mengacu pada kurs saat ini, angka tersebut setara dengan sekitar Rp8.801 per liter.
Harga itu jauh lebih rendah dibandingkan Pertalite di Indonesia yang berada pada kisaran Rp10.000 per liter.
Padahal, jika melihat kualitasnya, BBM bersubsidi Malaysia memiliki nilai oktan lebih tinggi. Artinya, konsumen Malaysia memperoleh bahan bakar dengan kualitas lebih baik tetapi membayar lebih murah.
Petronas sebagai perusahaan energi nasional Malaysia menjalankan distribusi BBM bersubsidi tersebut ke berbagai wilayah sebagai bagian dari program pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.
Selisih Harga Jadi Bahan Perbandingan Publik
Perbandingan harga antara Indonesia dan Malaysia memunculkan diskusi menarik mengenai efektivitas kebijakan subsidi energi.
Pertalite dengan RON 90 dijual Rp10.000 per liter. Sebaliknya, BBM RON 95 bersubsidi di Malaysia hanya sekitar Rp8.801 per liter. Terdapat selisih sekitar Rp1.200 per liter meskipun kualitas bahan bakar Malaysia lebih tinggi.
Perbandingan juga terlihat pada BBM non-subsidi. Pertamax Green 95 dengan RON 95 dibanderol Rp17.000 per liter. Sementara itu, Malaysia menjual RON 95 non-subsidi seharga sekitar Rp16.452 per liter.
Data tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan faktor yang membentuk harga BBM di masing-masing negara. Namun, perbandingan sederhana tidak selalu mampu menggambarkan keseluruhan situasi.
Setiap negara memiliki struktur ekonomi, kapasitas fiskal, tingkat produksi energi, serta kebijakan anggaran yang berbeda-beda.
Kebijakan Energi Tidak Sekadar Soal Murah atau Mahal
Harga BBM sering kali menjadi indikator yang mudah terlihat oleh masyarakat. Namun, pemerintah juga harus mempertimbangkan banyak aspek sebelum menentukan kebijakan subsidi.
Indonesia menghadapi tantangan besar karena jumlah penduduk yang jauh lebih banyak serta kebutuhan energi yang terus meningkat setiap tahun. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara perlindungan daya beli masyarakat dan keberlanjutan anggaran negara.
Malaysia pun menjalankan strategi tersendiri dengan menyesuaikan subsidi berdasarkan kondisi ekonomi domestik dan prioritas nasional.
Oleh karena itu, perbandingan harga BBM tidak hanya berbicara tentang siapa yang menjual lebih murah. Diskusi ini juga membuka ruang untuk memahami bagaimana setiap negara mengelola sumber daya energi demi menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 memang memancing perhatian publik. Namun, momentum ini juga dapat menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman mengenai kualitas BBM, mekanisme subsidi, serta tantangan besar yang menyertai setiap kebijakan energi di kawasan Asia Tenggara.